Saturday, April 05, 2025
Susi Ivvaty

Dua Jam Bersama Sopir Angkot Indra

Mau tahu kebiasaan saya saat menyambangi satu daerah‎? Menjajal kuliner setempat, ya, itu pasti. Namun ada kebiasaan lain lagi yang mengas...

31-12-2013. Sebuah Coretan

                31-12-2013. Hari terakhir di tahun ini mendorong banyak orang untuk reflektif...

Thor........! Bantu Aku Tangkapi Koruptor!

Promosi film Thor: The Dark World di Mal Kota Kasablanka awal November 2013 Demam Thor         ...

Lirik "Permata Biru"

Permata Biru Oleh: Nicky Astria Lelah aku menunggu dalam pelukan sunyi mencekam Rinduku melambung tinggi bergumpal di atas awan Ber...

Sports

Penonton Riuh, Calo Tiket Gentayangan

Penonton Riuh, Calo Tiket Pun Gentayangan Tereteteteeetttt... suara terompet membahana. ”Oleeeee,” ri...

Kisah Pecatur Dita Karenza Memburu Salju Pertama

    DITA KARENZA   Bermain Catur demi Memburu Salju....   Dita Karenza masih beru...

Tur Balap Sepeda dan Perjalanan Budaya

Ini sekadar catatan dari liputan balap sepeda Speedy Tour d'Indonesia dari tanggal 23November sampai 4 Desemb...

Gallery

Kakula: Musik Tradisi Kaili Sulawesi Tengah

  Sejumlah orang berlatih memainkan komposisi diiringi kakula dan alat musik lain di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah  ...

Museum: Surga Artefak yang Merawat Gagasan

Memasuki Museum Bale Panyawangan Diorama Purwakarta di Purwakarta, Jawa Barat, pengunjung disuguhi beragam koleksi dan informasi dalam ben...

Memory

Lirik "Permata Biru"

Permata Biru Oleh: Nicky Astria Lelah aku menunggu dalam pelukan sunyi mencekam Rinduku melambung tinggi bergumpal di atas awan Beraraklah jauh di seberang lautan Di sana di tanah seberang sebutir permata biru Sinarnya seperti bintang jatuh menusuk hati Membakar jiwaku oooohhh Ref...

masa kecil 9

Aku suka sekali main, namanya juga anak. Bukankah masa kanak-kanak adalah masa bermain? Entah bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain, atau..ya bermain saja. Aku paling senang bermain di alam dan bersama alam. Masa bermainku aku habiskan bersama anak-anak Kauman, kampung di sebelah utar...

Kisah Pecatur Dita Karenza Memburu Salju Pertama

Related Posts

 
 
DITA KARENZA
 
Bermain Catur demi
Memburu Salju....
 
Dita Karenza masih berusia 13 tahun. Namun, petualangannya di jagat catur sudah lumayan. Ia telah tampil di Turki, Rusia, Romania, dan bolak-balik ke Vietnam serta Filipina. Tubuhnya mungil, gayanya ceria khas anak-anak, dan masih sering kangen pada kakeknya, guru catur kanak-kanaknya.
Dita menjadi harapan Indonesia pada masa depan. Prestasinya cemerlang sejak usia tujuh tahun. Ia pun dimasukkan ke tim nasional untuk SEA Games 2013, tim 150 persen. Memang belum tentu berangkat ke Myanmar. Akan tetapi, Dita berkesempatan ikut uji coba, salah satunya Kejuaraan Kontinental Asia Piala Manny Pacquiao 2013, di Manila, Filipina, 18-26 Mei. 

Dita, yang bergelar Master FIDE Wanita (WFM), sangat percaya diri melawan pecatur-pecatur yang lebih kuat. Ia berada di peringkat ke-40 dari 40 peserta, alias juru kunci dengan rating 1.821. Namun, ia bergeming. ”Aku enggak mikirin rating. Cuek saja. Kan bisa saja ratingnya tinggi, tetapi dapetnya udah lama dan enggak pernah tanding lagi,” kata sulung tiga bersaudara kelahiran Tarakan pada 2000 ini. Benar saja. Dalam lima babak, Dita meraih tiga poin, hasil tiga kemenangan atas Jedara Docena (Filipina, ra t i n g
2 .01 9) Sharmin Shirin Sultana (Banglades, ra t i n g 2.005), dan Nguyen Thi Mai Hung (Vietnam, 2.284). Lawan terakhir ini bergelar WIM dan Raja putihnya mati tak ber-
kutik diskak Dita.
Mengikuti jejak bibi


 
Dita kecil mengikuti jejak bibinya yang juga pecatur nasional, Dewi AA Citra (19). Ayah Citra adalah kakek Dita, yang mengajari bibi dan keponakan ini bermain catur. Kakeknya bukan pecatur jagoan, hanya pecatur lapak, kata Dita. Akan tetapi, sang kakek ini pintar dari membaca buku, dan buku itu pula yang menjadi referensinya untuk mengajari Citra dan Dita.
Dita mulanya enggan diajak main catur. Pikirnya, pemain catur pasti seorang pemalas. Kerjaannya cuma duduk. Makanya ia tidak mau menjadi tambah malas. Namun, mimpi bibinya menularinya. Sambil memainkan boneka Barbie, Citra bercerita tentang salju. Suatu saat, Citra ingin bisa melihat salju. ”Ternyata mimpi Citra kesampaian. Main catur ke Eropa. Aku juga ingin melihat salju seperti tante. Makanya aku jadi mau belajar catur he-he-he,” tutur Dita. 

Setahun setelah berlatih catur pada usia tujuh tahun, Dita memenangi Kejuaraan Daerah di Kalimantan Timur. Dita menang lagi di Kejuaraan Nasional dan dihadiahi bertanding ke Kejuaraan Dunia Remaja di Turki. Saat itu musim dingin, dan Dita pun bisa melihat salju. Waaaah.... Mimpinya terkabul.
Satu demi satu prestasi ia raih. Pada 2008 di kejuaraan kelompok umur ASEAN di Vietnam, Dita menyabet dua emas untuk catur blitz (catur kilat) dan rapid (catur cepat). Ia juga pemenang ketiga Kejuaraan Pelajar Dunia pada tahun yang sama. Setahun berikutnya di Kejuaraan Remaja ASEAN di Filipina, Dita menyabet tiga emas atau semua kategori, yakni klasik, blitz, dan rapid.  Ia pun dianugerahi gelar WFM karena kecemerlangannya,meski ratingnya belum cukup .
Jalan masih panjang bagi Dita untuk meraih mimpi besarnya, merengkuh gelar Grand Master Wanita. Untuk itu,sederet norma harus ia penuhi. Yakin? Ia sangat yakin, seyakin dulu saat memburu salju pertamanya. (Kompas, 24 Mei 2013)


About the Author
susiivvaty

Share a little biographical information to fill out your profile. This may be shown publicly. Share a little biographical information to fill out your profile

No comments :

Leave a Reply

Our mission of increasing global understanding through exploration, geography education, and research.