Susi Ivvaty
 
Sejumlah orang berlatih memainkan komposisi diiringi kakula dan alat musik lain di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah 


               "Vose sakaya... Ranga kami tope bau.. Natuvu nte roompo mbo tagavu". (Dayung perahu. Kami pencari ikan. Hidup dengan kail dan jala). Lima perempuan manis menyanyikan lagu Vose Sakaya diiringi kakula, ensambel gong berpencon khas etnik Kaili di Sulawesi Tengah. Suara perempuan, bunyi khas kakula, dan denting gitar elektrik itu sungguh terdengar harmonis.
                  Lirik lagunya membikin hati "nyes". Sederhana. Kalau diteruskan, bunyi liriknya: "Setiap hari kami turun. Di tengah laut di ujung barat. Membawa ikan tongkol dan ikan kembung. Ketika perahu merapat, ikan menjadi rebutan para tengkulak". Harmoni antara lirik, musik, dan tradisi bahari ini juga menyerukan harmoni bagi sesama, seperti kehidupan keseharian dalam kearifan bahari yang inklusif. 
                  Sejumlah ibu, bapak, dan remaja itu berlatih di sela-sela pelatihan kakula di teras belakang Kantor Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, 14 Maret 2015. Parigi Moutong yang terletak 66 kilometer dari Kota Palu merupakan daerah pesisir yang sampai kini menjaga tradisi kakula, tetabuhan yang muncul pada Abad ke-17. Menurut rencana, pertunjukan kakula kreasi baru ini akan disuguhkan pada perhelatan Sail Tomini, September 2015.
                 Seperangkat kakula asli berisi kakula itu sendiri (serupa bonang dalam gamelan Jawa), gong, dan kendang. Kini kakula kreasi baru bisa ditambah dengan rupa-rupa tetabuhan seperti rebana, kendang kecil satu sisi dan sua sisi, saron, dan tetabuhan lain. Seruling bambu makin memperkaya bunyi, sedangkan gitar elektrik memberi satu dimensi kekinian. Apalagi, gitarnya dimainkan Ote Abadi, musisi asal Sulteng yang pernah bergabung dengan Leo Kristi.
kakula
 
                  Inilah musik yang disebut para etnomusikolog dengan neo tradisi, tradisi berkebaruan. Inilah yang dikatakan jauh hari oleh Eric Hobsbawn (1983), ‎peristiwa budaya tidak dapat dilepaskan dari perubahan budaya. Tradisi yang tampaknya tua atau diklaim tua sebenarnya aktual, bahkan bisa ditemukan sesuatu yang baru dari sana. 
               Kakula dengan kebaruan atau kakula yang berpenetrasi dengan kekinian terus dikembangkan di Sulteng, khususnya di wilayah pesisir. Ada kelompok musik Doeloe Doeloe pada 2008, meski kini mati. Jangan khawatir, masih ada Sanggar Balia yang menawarkan konsep kakula gaul, memadukan kakula dengan gitar dan bass elektrik. Setidaknya Sanggar Balia masih pentas setahun sekali di Taman Budaya Sulteng. ‎Lantas ada Ensambel Modero Palu dengan komposer dan etnomusikolog Amin Abdullah. 

Kakula nuada

                 Yang lawas dan yang baru, dalam konteks ini, memang bukan sesuatu untuk dipertentangkan. Maka itu, menakjubkan ketika sehari setelah pertunjukan kakula "gaul" yang asyik di Parigi Moutong, tetabuhan kakula asli menggema di acara pernikahan sejoli Feri dan Perhana di rumah Perhana di dekat Pantai Talise, Palu. "Kakula dimainkan untuk mengiringi pengantin pria, mulai dia datang sampai masuk ke rumah pengantin wanita, sambil membawa seserahan," kata Darmin (65), pemilik kelompok Kakula Abadi di Palu.        
Kelompok musik Kakula Abadi, Palu, Sulteng
 
                 Kakula asli atau kakula nuada (kakula adat) yang dimainkan oleh Darmin (pada kendang),  Hatimi (kakula), dan Sahlia (gong) harus memainkan tiga komposisi instrumental wajib, yakni Ndua Ndua, Palanga, dan Torompito. Bisa jadi ada tambahan Gambusu, sesuai selera. ‎"Nadanya tidak ditulis. Saya diajari langsung dari ibu saya, Bu Dahawia. Karena saya pintar, saya cepat bisa. Saya cari sendiri nadanya," kata Hatimi (65). 
                Begitulah kekuatan tradisi lisan, kata kata Tety Pudentia, Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan. Tradisi lisan merupakan satu unsur penting dalam warisan budaya tak bendawi‎. "Tradisi lisan mencakup juga berbagai hal seperti kearifan tradisional, sistem nilai, sistem kepercayaan dan religi, kaidah dan struktur sosial, dan banyak lagi," kata Pudentia. 
Hatimi, belajar kakula dengan mendengarkan neneknya bermain
 
                 Kakula sejak awal dimainkan oleh perempuan, dan diturunkan turun-temurun secara lisan. Dahawia diajari ibunya, lalu mengajari Hatimi, sedangkan Hatimi saat ini mengajari dua anak perempuannya yang bersekolah di SMA.  Mengapa pemain kakula perempuan, Amin Abdullah memiliki jawaban. "Di masyarakat tradisi, kakula nuada dimainkan untuk mengiringi peristiwa yang berkaitan dengan daur hidup. Sunatan, upcara akil balik untuk perempuan, cukur rambut, pernikahan‎. Pada etnik tertentu bahkan untuk mengiringi kematian. Penjaga daur hidup, penjaga kehidupan, ini disematkan kepada perempuan. Laki-laki hanya menjadi pengiring saja," kata Amin.

Simbol identitas

              Kakula mampu bertahan karena semua kalangan terlibat melestarikannya. Masyarakat tradisi masih menganggap penting tetabuhan ini sebagai menyeru harmoni dan simbol identitas. Pemerintah daerah juga berkepentingan untuk menunjukkan identitasnya. Kakula dimainkan untuk menyambut tamu negara dan pengiring tarian daerah.‎ Sail Tomini menjadi ajang untuk unjuk diri kepada masyarakat di luar Indonesia. 
              Ada pepatah di etnik Kaili. "Ane dota ntotua mo kakula, ane dota mboto aga mo kalopo". Artinya, kalau perkawinan dikehendaki atau direstui orang tua akan disemarakkan dengan kakula, kalau keinginan sendiri hanya makan kalopo (manisan dari ketan dan gula merah semacam dodol). 
               "Kalau ada orang kawinan ada kakula, berarti dia orang berpunya. Karena dia bayar kami, kan. Biasanya kami dibayar Rp 1.500.000 untuk mengiringi acara kawinan. Kadang kurang kadang lebih. Kalau saudara yang kawin, bisa gratis, ha-ha-ha," kata Darmin, yang berkongsi dengan kelompok kakula milik Hatimi. ‎ "Kalau saya yang diundang, saya ajak Bu Hatimi. Kalau Bu Hatimi yang diundang, dia ngajak saya. Bulan April, sudah ada dua undangan, ha-ha," sambung Darmin. 
               Amin mengatakan, kakula menjadi penanda identitas individu, masyarakat, dan nasional. Tradisi menjadi bagian penting kebudayaan ketika identitas ditegaskan kembali, ditantang. Di situlah musik kakula mengambil peran. Kakula mengandung pertanyaan mengenai etnisitas, motivasi politik, identitas jender, diskriminasi, kelas, status. 
Ote Abadi. Kakula plus gitar, jozz
Amin Abdullah (kiri), etnomusikolog,  melatih remaja bermain kakula
 
                  Situasi seperti ini juga terjadi pada tradisi yang lain. Pantun Makyong di Kepulauan Riau, misalnya, lalu Gurindam Besemah di Jambi, dan tarian perayaan panen Sumengo di Luwu Sulawesi Selatan. Di Sulteng sendiri juga kaya akan tradisi, seperti Vaino, nyanyian syahdu, di Kabupaten Donggala. Di Kepri masih ada Ghazal dan Mendu. ‎Segudang tradisi yang ada Indonesia ini banyak yang masih lestari dan berkembang serta menyesuaikan diri dengan perubahan masa, meski banyak yang sekarat dan punah. 
                  Pada satu diskusi di Taman Ismail Marzuki Jakarta beberapa waktu lalu, dua tokoh Mahfud MD dan Yudi Latif membahas mengenai tradisi nusantara yang terbukti mampu membuat Indonesia utuh sebagai bangsa. Bayangkan betapa kacaunya jagat perpolitikan tanah air, betapa maraknya kekerasan atas nama agama. Indonesia sebagai negara boleh kacau balau, namun Indonesia sebagai bangsa tetap kokoh. Salah satunya berkat kekayaan tradisi yang masih dijaga, diwariskan, lalu dihidupkan oleh para pelestarinya. Yoih sekaleeee.....
                   
Memasuki Museum Bale Panyawangan Diorama Purwakarta di Purwakarta, Jawa Barat, pengunjung disuguhi beragam koleksi dan informasi dalam bentuk multimedia. Artefak tak sekadar benda mati, tetapi dihidupkan sehingga bisa berinteraksi dengan peng‎unjung.
Indri, pemandu museum Bale Panyawangan Diorama Purwakarta

             Tidak semua koleksi di museum yang diresmikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi pada 21 Februari 2015 itu berbentuk audio visual. Ada sejumlah koleksi pajangan tentunya, misalnya replika-replika prasasti seperti Prasasti Batu Tulis dan Prasasti Kawali. Informasi dalam bentuk diorama memudahkan pengunjung untuk berimajinasi. Di sini juga ada bioskop mini berkapasitas 50 kursi.
             Di museum seluas 1.018 meter persegi yang dibangun dengan anggaran Rp 5 miliar ini, segala pengetahuan tentang sejarah Purwakarta dan Tatar Sunda tersedia. Begitu pula
sejumlah peristiwa politik dan budaya pada masa pra-kemerdekaan hingga setelah kemerdekaan.
Ingin tahu peristiwa Rengasdengklok atau sejarah Purwakarta 1940-an hingga 1950-an? Sentuh layar-layar di sana, informasi pun tersaji. Pencet tombolnya, narasi dalam bentuk audio pun mengalun. Cara belajar seperti ini cocok untuk siswa sekolah masa kini, yang berkawan akrab dengan dunia layar, hidup dalam budaya layar.
            ”Kami juga merencanakan Museum Diorama Wayang Nusantara‎. Lebih besar lagi. Arsip atau sejarah yang ditampilkan dengan wujud karya seni dengan sentuhan teknologi pasti lebih menarik, apalagi pada masa kini,” kata Dedi, Mei 2015, di Purwakarta.
              Media diorama ini masyhur sejak dibangunnya Museum Sejarah Nasional  atau Museum Monas yang terletak di bagian cawan Tugu Monas Jakarta. Tugu Monas berikut museumnya diresmikan pada 12 Juli 1975. Media diorama ‎sangat membantu pengunjung membayangkan suasana pada satu peristiwa dengan tepat. Diorama menurut KBBI berarti sajian pemandangan dengan perincian sesuai aslinya dalam ukuran kecil yang dilengkapi dengan patung. 
Sejarah Tatar Sunda bisa diketahui dengan mendengarkan
narasi di buki ini. Buka lembaran buku, narasi audio pun terdengar
(Museum Bale Panyawangan Diorama Purwakarta)

               Museum-museum milik pemerintah saat ini juga dilengkapi dengan diorama, meski tidak lengkap. ‎Di Bale Panyawangan ini, bentuk diorama dipadu dengan teknologi multimedia dan sistem informasi digital yang dihubungkan dengan komputer. Pengunjung yang datang bisa menyentuh layar di bagian lobi untuk mengetahui apa saja yang tersaji di sembilan bale atau ruangan di museum.
               Sembilan bale di museum ini meliputi Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana, menyajikan sejarah Tatar Sunda. Bale Prabu Niskala Wastukancana, adalah semacam "hall of fame" yang menampilkan sosok para pemimpin Purwakarta. Di Bale Prabu Dewaniskala,‎ pengunjung mendapatkan suasana Purwakarta pada masa pengaruh Mataram, VOC, dan Hindia Belanda pada 1620-1799. Bale Prabu Ningratwangi menyajikan Purwakarta pada 1800-1942. 
              Lima bale yang lain menggambarkan Purwakarta mulai pergerakan nasional, pra kemerdekaan, kemerdekaan, demokrasi terpimpin, hingga era reformasi dan masa kini. "Materi di dalam museum ini selalu kami update jika ada informasi tambahan atau koleksi lain yang belum dimasukkan," kata pemandu museum, Arie Lukman.

Prasasti-prasasti 

Salah satu bale, dengan Indri di tengah (maaf gelap)
            Bale Panyawangan menambah daftar museum yang ada di Indonesia. Pada awal 2014, museum pemerintah ataupun swasta ‎berjumlah 325. Kini, Indonesia memiliki 412 museum. Tiga tahun lagi, Indonesia akan memiliki Museum Batik Indonesia, setelah pada Kamis (21/5), Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan meletakkan batu pertama pembangunan museum itu di Taman Mini Indonesia Indah.
              ”Bagus sekali jika selalu ada museum baru hadir” dan museum lama tetap hidup,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud Harry Widianto.

Merawat gagasan
               Museum dan artefak bukan benda tanpa narasi. Artefak merupakan benda yang menyimpan gagasan, demikian mengutip pandangan James Deet‎z dalam Invitation to Archaeology, (1967). Kita boleh setuju atau tidak dengan pendapat Deetz tentang ”ide-ide terfosilkan” (fossilized ideas) itu, tetapi hal yang pasti, satu artefak muncul bukan tanpa alasan atau latar belakang sejarah.
            Banyak artefak tersimpan di museum-museum, yang tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga kebudayaan dan peradaban satu suku bangsa dan bangsa. Identitas serta lokalitas satu komunitas tergambarkan dalam koleksi itu. Maka itu, museum sebagai tempat belajar seumur hidup mustinya terus dikembangkan dengan program-program menarik.
            Ketua Komunitas Jelajah Musiana Yudhawasthi melihat banyak museum baru yang inspiratif, termasuk Bale Panyawangan Diorama Purwakarta dan Museum Martha Tilaar di Gombong, Jawa Tengah. Namun, di sisi lain, banyak museum kurang terawat, sepi program, tidak interaktif, sehingga membosankan. Orang pun malas datang.
             Untuk itulah, Komunitas Jelajah didukung Asosiasi Museum Indonesia menggelar ajang penghargaan bagi museum agar lebih bersemangat menginovasi diri. Penghargaan dibagi dalam empat kategori: museum pintar, museum cantik, museum bersahabat, dan museum menyenangkan. Museum Award yang keempat ini hanya mengobservasi museum-museum yang ada di enam provinsi di Pulau Jawa, yang berjumlah 248 museum.
            Ajang penghargaan ini menyesuaikan dengan Hari Museum Internasional yang diperingati saban 18 Mei. Tahun ini, peringatan itu mengangkat tema Museum for a Sustainable Society. Museum-museum sedunia merayakannya.
            Museum Nasional Indonesia juga menggelar beragam program untuk merayakan Hari Museum, seperti bazar, lomba paduan suara, peragaan busana anak, lomba film pendek‎, serta lokakarya dan pameran mainan tradisional. Semua dilakukan di Museum Nasional, dengan tujuan membuat museum lebih hidup dan bersahabat dengan pengunjung.
            Hari Museum dirayakan saban tahun di dunia, tetapi museum-museum di Tanah Air masih saja sepi. ‎Banyak museum masih belum beranjak maju alias gagal move on, mengikuti bahasa remaja sekarang. Museum masih kerap sebatas tempat memajang koleksi bisu. Bahkan, pengunjung harus mencari-cari petugas yang dapat menjelaskan semua koleksi. Ada juga museum yang koleksinya bagus, tetapi tidak bisa dibuka. ”Tantangan museum luar biasa besar,” kata Musiana.
          Museum-museum baru memang belum teruji. Bale Panyawangan, misalnya. Gedungnya saat ini bersih, para pemandunya ramah kepada pengunjung.
Salah satu pemandu museum yang lulusan jurusan teknik informatika, Indri Sukma Wirawati, menyambut tamu dengan senyum merekah pekan lalu. Ia bersama Arie Lukman dan Edi Rasidi mengenakan busana khas Sunda. ‎
          Akan tetapi, bagaimana pengembangan museum-museum baru itu pada masa depan? Mampukah semua museum di Indonesia merawat gagasan yang termuat setiap koleksinya? Waktu yang akan menguji.

Ruang kaca tempat koleksi prasasti, 
sebelum memasuki lobi Bale Panyawangan

(Tulisan dimuat di Kompas, 23 Mei 2015, namun di sini ada sedikit tambahan plus foto-foto)

Mau tahu kebiasaan saya saat menyambangi satu daerah‎? Menjajal kuliner setempat, ya, itu pasti. Namun ada kebiasaan lain lagi yang mengasyikkan, yakni berkeliling kota naik angkutan umum. Tentu ada syaratnya, jika waktunya memungkinkan. 
                Angkutan umum tentu bisa apa saja, mulai dokar atau cikar atau benhur, hingga taksi. Mari kita singkirkan taksi. Jelaslah, taksi di Jakarta banyak. Lagipula, taksi umumnya hanya ada di kota-kota besar. Jadi yang saya maksud adalah angkutan khas daerah setempat serta yang lebih umum adalah angkot.
                Sewaktu melancong ke Nunukan Kalimantan Utara pada awal April 2015, ‎saya memiliki berjam-jam waktu kosong. Acara inti digelar pada malam hari berupa pentas musik tradisi dan moderen, sehingga waktu luang pagi hingga sore bisa dimanfaatkan untuk berkeliling kota.
                Pagi menjelang siang, saya keluar hotel dan mulai menunggu angkot yang lewat. Sebelumnya saya bertanya pada pemilik warung kelontong di samping hotel. "Ada angkutan lewat. Bilang saja mau ke mana, nanti diantar," katanya. "Saya mau ke pasar, nomor berapa angkotnya," tukas saya. "Tidak ada nomor, bilang saja mau ke mana," lanjut Bapak itu lagi. 
                 Pas selesai obrolan kami, tak lupa saya membeli sebotol air mineral "biasa" (untuk membedakan dengan yang dingin)‎, lewatlah angkot warna hijau. Saya melambaikan tangan. Wah, tak ada penumpang lain. 
               "Mau ke pasar". "Pasar baru atau pasar malam?" sahut sopir angkot, yang belakangan diketahui bernama Indra. "Ini kan siang, masak pasar malam?‎ Pasar apa saja". Lalu mulailah saya melewati jalan yang ternyata tidak semuanya datar. Ada jalanan yang cukup terjal dan cukup curam. 
                Kami melewati jalan yang sejajar dengan laut. Pelabuhan, deretan warung, rumah penduduk, tanah lapang, lalu lapak-lapak yang cukup riuh oleh kerumunan orang. "Ini pasar? Pasar apa?" tanya saya. "Itu jualan batu akik". "Oooooh......". Angkot terus melaju dan tak ada seorang pun penumpang yang naik. 
                 Indra menghentikan mobilnya di ujung jalan, sebelum kelokan ke arah kanan. "Itu pasar ikan di ujung. Yang di pinggir jalan pasar malam". Pasar malam lagi. "Pasar ini ramainya kalau malam, kalau siang sepi. Makanya dinamai pasar malam," papar Indra, menjawab keheranan saya soal nama pasar malam itu. 
                 "Berapa?". "Tujuh ribu". "Nih, gak usah kembali," kata saya sambil menyodorkan selembar Rp 10.000. Saya turun dan angkot pun menjauh. Saya berjalan menyusuri deretan kios yang masih tutup. Beberapa kios pakaian terlihat buka. Saya berhenti sejenak, barangkali ada kain, sejenis kain buatan lokal atau tenun. Nihil.

Penjual sayur di Pasar Liem Hie Djung 

                Sampailah saya di pasar ikan, persis di pinggir pantai, yang rupanya bernama Pasar Tradisional Liem Hie Djung. Di sana berderet penjual ikan‎ tongkol, kakap, bandeng, kuwe, kembung, hingga udang. Penjual sayur-mayur tentu ada juga, sedangkan di bagian ujung terdapat warung makan. 
               Puas memotret ikan-ikan segar, saya duduk sejenak di dekat warung, memesan secangkir kopi pahit. Kepala buruh bongkar muat ikan, Syamsudin, atau biasa disapa Pak Cambang (kamu tentu tahu alasan sapaan itu kan?) mengatakan, saban hari ikan yang terjual di pasar ini mencapai 500 kilogram. "Pasar-pasar lain di Nunukan biasa ambil ikan di sini juga," kata Pak Cambang yang asal Bugis Sulawesi Selatan itu. 

Penjual ikan di pasar Liem Hie Djung 
Perahu nelayan di Pantai Nunukan Kaltara

Ikan di Pasar Liem Hie Djung


                Perut mulai lapar, dan saya pun meninggalkan pasar, berjalan sambil melihat-lihat hasil jepretan di kamera. Baru sadar, saya lupa mengatur white balance dan ISO. Pantesan gambarnya ada yang aneh. Saya berjalan ke luar pasar, dan kaget saat ada suara seperti menyapa saya, "Bu... bu.....". Mata saya mencari arah suara. Dan, waks, sopir angkot yang tadi.
                Sopir itu memarkir angkotnya beberapa meter dari pasar, yang berarti sekitar seratus meter dari jalan besar tempat saya turun dari angkotnya tadi. "Lho, kok di sini?" Saya menghampirinya dan naik. Kali ini saya duduk di depan. 
                 "Saya sudah muter dua kali tapi sepi, tidak ada penumpang, jadi saya ke sini saja, nunggu ibu," katanya. "Waaah. Gak ada penumpang? Ya sudah kita keliling lagi yuk. Antar saya ke pelabuhan yang lain, warung makan yang enak, dan tempat-tempat lain". Angkot yang setengah ringsek dengan suara kenalpot keras dan pintu depan sulit dibuka-tutup itu kembali melaju.
                ‎ Sampai di pelabuhan penumpang Nunukan. Mata saya langsung melotot melihat deretan warung makan di samping kiri pelabuhan. Perempuan pemilik warung sedang khusuk membakar ikan bandeng. Asap mengepul. Bau harum. Hadeeeeh. Saya turun, dan Indra pamit mau sholat dhuhur di masjiid tidak jauh dari pelabuhan. "Makan dulu aja yuk bareng," ajak saya. "Saya sudah makan". Okelah.
                  Nasi pulen dengan lauk bandeng bakar plus sambal tomat kemangi ‎siang itu menjadi santapan terlezat selama tiga hari di Nunukan. Gurihnya bandeng hasil tangkapan pagi tadi, guandeeem. Sambelnya mak nyoosss. Oh ya, ada tambahan sop. Rupanya, lagi-lagi, yang jualan perantau asal Bugis. 
                Makan selesai, pas Indra datang. Eh hujan. Saya pun ditemani Indra kembali berkeliling kota dengan angkot. Saya betul-betul menjadi satu-satunya penumpang Indra hari ini. "Oh ya, namanya siapa?", tanya saya. "Indra". (nah kan, namanya memang Indra kok, hihihi). Kami pun berhenti di toko pakaian, melihat-lihat saja modelnya dan bahannya yang sama belaka dengan umumnya pakaian toko. Eh, denger-denger ada toko yang jual barang branded tapi bekas. Lihat sajalah. Kabarnya, penjual baju itu sering menemukan uang di saku baju, bahkan cincin atau jam tangan milik si empunya baju.
               "Eh, Indra, trus gimana memenuhi kebutuhanmu kalau sepi penumpang begini?". "Ya dicukup-cukupkan. Ini mobil saya sewa bulanan. Rp 1 juta sebulan. Itu tuh rumah yang punya," kata Indra sambil nunjuk rumah di sisi kanan. Hmmm..... sejuta sebulan, dapat lebih gak ya, si Indra?
                Saya mulai menghitung. Misalnya sehari mendapat Rp 50.000, dikali 30 berarti Rp 1.500.000. Berarti Indra hanya mendapat Rp 500.000. Waaah.... Kalau sehari ada 10 penumpang, berarti 10 X Rp 7.000‎ = 70.000. Kalau konsisten dapat segitu, berarti 70.000 X 30 = 2.100.000. Indra mendapat Rp 1.100.000. Hmmmm

Ini dia sopir angkot Indra


Indra


Bandeng bakar jozz #sederhana


              "Kamu umurnya berapa?". "23 tahun". "Sudah punya istri, anak?" . "Belum". Ah, cukuplah hasil narik kalau hiidup sendirian, pikir saya. "Mengapa sih kamu merantau? Bukannya enak di Bugis sana, Sulawesi, daripada di sini?," tanya saya, penasaran. Indra diam saja. "Gak pengin balik ke Sulawesi?". "Mungkin saja," sahutnya. Okelah...
                Setelah merasa cukup, saya meminta Indra mengantar ke hotel. Saya berdoa, semoga setelah ini ada banyak penumpang naik angkotnya, masih ada sisa hari sampai sore. Oh ya, tadi sewaktu berangkat dari pasar ikan, Indra sempat bertanya, "Angkot di Jakarta berapa?". Saya jawab Rp 4.000-Rp 5.000, dan ia menggumam, "Lebih murah ya"
                 Sampai hotel. Kalau melihat jam di ponsel, kira-kira dua jam saya bersama Indra, tapi sudah termasuk nongkrong di pasar (waktu ngopi di pasar diitung karena Indra nunggu di depan pasar). Saya mengeluarkan selembar Rp 50.000. "Rp 20.000 saja bu," kata Indra. "Gak ada, ini diterima ya, kan tadi sudah ditunggu makan ikan. Harusnya justru kurang". Indra masih berusaha menolak dan mencari-cari kembalian dari tasnya. Jangan-jangan dia ngitung tarif angkot di Jakarta, Rp 5.000 X 4 = Rp 20.000. Sungguh sopir angkot yang baik.
             Saya meloncat turun dari angkot, lalu dada dada.. ke Indra. "Semoga rezekimu lancaaaaar yaaaaa," kata saya mengiringi deru mesin angkot yang menjauh......

(Kalau Anda menduga kami saling tukar nomor ponsel, berarti Anda terpengaruh cerita sinetr**)
Belasan orang berbaris berantai dengan kedua tangan memegang pundak orang di depannya. Persis formasi permainan anak "kereta-keretaan". Mereka berjalan pelan dalam langkah serempak sambil diiringi nyanyian "Ta'lande... ta'lande...." 

Gadis-gadis dari suku Dayak Lundayeh menarikan ta'lande dalam satu acara di Nunukan, Kalimantan Utara, awal Maret 2015. Ta'lande merupakan paduan lantunan syair dan tarian yang biasanya disuguhkan saat irau (pesta besar). Orang-orang (bisa mencapai ratusan orang) berdiri berantai dengan memegang bahu orang di depannya, lalu berjalan mengikuti irama musik sampek.
KOMPAS/SUSI IVVATYGadis-gadis dari suku Dayak Lundayeh menarikan ta'lande dalam satu acara di Nunukan, Kalimantan Utara, awal April 2015. Ta'lande merupakan paduan lantunan syair dan tarian yang biasanya disuguhkan saat irau (pesta besar). Orang-orang (bisa mencapai ratusan orang) berdiri berantai dengan memegang bahu orang di depannya, lalu berjalan mengikuti irama musik sampek.
Lagu "Ta'lande", yang dilantunkan Dorma Kisu, warga suku Dayak Lundayeh dari Krayan, Kalimantan Utara, mengalun. Orang-orang ikut bernyanyi sambil terus berjalan berkeliling. Pertunjukan di Sei Sembilan, Nunukan, Kalimantan Utara, awal April 2015, terasa nikmat dilihat dan didengar.
Ta'lande merupakan gabungan syair-syair lagu dan tarian yang melambangkan kebersamaan. Itu juga gambaran dari kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh, tempat seni ta'lande tumbuh dan berkembang.
Pertunjukan ta'lande itu sepertinya sepele. Belasan orang itu hanya berjalan memutar bersama-sama di tempat terbuka. Orang yang berada paling depan biasanya pintar menyanyi dan hafal syair-syair yang merupakan tradisi lisan warisan nenek moyang. Namun, pada pertunjukan tersebut, pemimpin di depan hanya mengatur langkah, menyesuaikan irama musik sampek yang dipetik lelaki muda bernama Roy. Peran pemimpin tarian itu digantikan Dorma Kisu, yang melantunkan syair di luar formasi barisan.
Dorma Kisu melantunkan syair diiringi sampek oleh Roy

Kerukunan
Sekilas, tarian dan lagu itu memang terkesan bersahaja. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada filosofi yang menggugah. Lihatlah para perempuan dari Sanggar Gelate yang menari melingkar-lingkar tersebut. Mereka sangat cantik dengan busana khas yang elok. Riasan wajah sederhana menambah semringah suasana. Para perempuan cantik itu menyerukan ajakan kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan.
Sejumlah orang di sudut lapangan tiba-tiba masuk ke dalam barisan, memegang pundak orang di depannya, ikut menari. Lucu juga. Pernah pada suatu irau atau pesta besar, menurut beberapa warga Nunukan, ratusan orang menari ta'lande, melingkar-lingkar, seperti dalam lagu "ular naga panjangnya bukan kepalang..." itu. Bayangkan, jika orang se-Indonesia merapatkan barisan seperti ini: kompak, setara, tanpa prasangka, bebas kepentingan. Ah, tentu ini khayalan terlalu berlebihan.
Dorma terus bernyanyi. "Tudih tudih kedilun tudih. Tunge emung kmei seniman kedilun tudih. Nalan pad pad na mefatad... metafad teu mekusag kedilun tudih tudih.... "Bapak-bapak ibu-ibu mari ta'lande bersama kami. Ta'lande... lande nalan nalan laeeee...". "Kudeng miek lubed beruh. Ruen ria nih lak beruh. Pele ngiding ngadan Nunukan. Ta'lande lande... nalan nalan laeee."
"Ta'lande lande... nalan nalan laeee itu kata kiasan yang berarti 'jika memungkinkan, permohonan kami dipenuhi. Namun, tidak ada pemaksaan, melainkan keihlasan'," kata Dorma.
Ia menjelaskan, isi syairnya adalah ungkapan rasa terima kasih kepada penyelenggara acara, salah satunya Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harapan lain, Nunukan bisa diperindah sebab Nunukan adalah kota yang membatasi Indonesia dengan Malaysia. Wajah Nunukan adalah wajah negara.

Syair kearifan lokal
Masyarakat adat mengajarkan beragam kearifan di dalam berbicara dan berperilaku. Melalui syair, berbagai permohonan disampaikan. Begitu pula syair-syair ta'lande yang mengandung aneka makna seperti penghormatan dan penghargaan kepada seseorang atau sebaliknya, yakni kritik kepada pemimpin. Syair juga berisi sindiran, kisah lucu, hingga kata-kata romantis untuk muda-mudi yang sedang jatuh cinta.
Pada masa dulu, ta'lande biasanya dipraktikkan ketika irau. Ta'lande menjadi satu prosesi rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang mencukupi hidup. Harapan dan doa-doa berhamburan di dalam syair yang dilantunkan. Warga Dayak Lundayeh yakin, doa dengan keikhlasan hati pasti terkabul.
"Saat ini ta'lande kadang dipentaskan pada saat pesta perkawinan. Isinya permohonan kepada pasangan. Situasinya bisa kontekstual, misalnya syairnya berupa sindiran atau imbauan kepada pemerintah dalam memberantas korupsi," papar Dorma, yang bekerja di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Begitu kaya tradisi Nusantara. Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan Tety Pudentia menekankan betapa pentingnya lokalitas di dalam tradisi lisan yang menjadi jati diri bangsa. "Tarian tidak sekadar tarian. Musik tidak sekadar dimainkan. Di dalamnya terkandung kearifan lokal hingga sejarah peradaban satu kaum. Sayang, jika tradisi lisan itu tidak kita jaga dengan merevitalisasinya," paparnya.
Memang benar. Menurut Dorma, sekarang hanya beberapa orang yang bisa menuturkan ta'lande. "Saya pun dulu diajari nenek, dengar-dengar saja, akhirnya saya mencatat sejumlah syair ta'lande. Untuk kepentingan tertentu, syairnya ya harus dibuat lagi," kata Dorma.
Sebagai pemain sampek, Roy berlatih bersama Sanggar Gelate, untuk memadukan lagu yang dipakai di dalam ta'lande. Roy, yang berdarah Bugis, Sulawesi Selatan, kini telah menjadi Dayak. "Saya sangat menghayati semua tradisi Dayak. Main sampek itu asyik sekali," katanya.
Selain ta'lande, ada tradisi lisan lain Dayak Lundayeh berupa tarian, yakni fulung raye. Tarian ini bertutur tentang hutan yang belum dijamah manusia. Satwa langka bebas beterbangan. Pohon-pohon raksasa masih berdiri tegak. Petuah tarian ini adalah ajakan untuk menjaga alam ciptaan Tuhan.
(Liputan lapangan di Sumba Nusa Tenggara Barat)


Wati Liwar (43),
 pedagang tenun dari Kampung Raja Sumba Timur NTT




Perempuan dari Desa Praingu Lewa Paku Sumba Timur
menari untuk menyambut tamu


Kain tenun sumba dengan motif orang menari dan  menunggang kuda.
 Sungguh indahnya
 Wati Liwar (43) menggantungkan kain-kain tenunnya di tali tambang yang dibentangkan dan diikat di antara dua pohon. Perajin dan pedagang tenun dari Kampung Raja, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, itu bertandang ke Kampung Praingu karena mengetahui ada perayaan adat di sana. Banyak tamu dari luar kota datang. Siapa tahu mereka mampir, tertarik dengan kain-kainnya, dan membelinya.

              Wati datang bersama ibunya, Kristina Kupang, yang mengajarinya menenun dan berjualan kain semenjak ia kecil. Sungguh sangat indah kain-kain milik Wati. Motifnya sangat khas Sumba Timur, seperti motif orang, binatang, tetumbuhan, dan bebungaan. Ada motif kesatria menunggang kuda, pasukan berpedang, dan beragam motif yang bertutur. Motif-motif itu menggambarkan sejarah kehidupan orang Sumba pada masa lalu dan masa kini.

              Pada pagi hari di awal November itu, Praingu Lewa Paku memang sedang semringah. Warga menggelar hajatan adat sebagai tanda bersyukur atas rezeki yang datang. Sebagian besar mereka, laki-laki dan perempuan, mengenakan kain tenun ikat beragam motif dan warna. Umbu Mboru, Ketua Komunitas Adat Praingu Lewa Paku, mengenakan sarung dan ikat kepala berwarna dasar coklat. Para penari berseragam kain tenun dengan dominasi warna merah dan biru. Para ibu mengenakan kain tenun songket bersulam warna emas. Hari itu sungguh mata seperti ditetesi vitamin berupa keelokan tenun songket Sumba Timur.

             Biasanya setiap ada hajatan di desa, pedagang kain seperti Wati Liwar ini datang dan menggelar lapak, sejenak meninggalkan kiosnya di pasar. Tidak hanya tenun, tetapi ada juga beragam aksesori, mulai dari kalung dan gelang dari batu hingga benda antik. Para pedagang kain juga berjualan di pelataran samping hotel, apalagi jika mengetahui ada turis mancanegara datang menginap.

           ”Ikat dan selendang paling laris. Yang beli kebanyakan turis dan juga pesanan untuk upacara adat,” kata Wati yang memintal sendiri benang-benang menggunakan pewarna alami, seperti akar mengkudu untuk menghasilkan warna merah dan daun nila untuk biru.

             Wati pernah mengikuti pelatihan yang digelar Dewan Kerajinan Nasional daerah tentang pewarnaan alam. Dengan sistem kerja baru, pemintalan dan penenunan menjadi lebih singkat, dari enam bulan menjadi tiga bulan. ”Kami memanfaatkan pohon-pohon sekitar, daun sukun, mangga, dan secang,” ujar Wati yang menjual kain-kainnya paling jauh ke Bali.

          Sama seperti Wati, pedagang kain Yustinus Katuhi Rangga Djawa juga mengandalkan pesanan meski ia memiliki toko Galeri Rihi Eti (artinya: hati lebih, murah hati, baik hati) di Pasar Inpres Waingapu, Sumba Timur. ”Pesanan selalu ada karena untuk upacara adat. Setiap Selasa dan Kamis juga setiap kantor harus pakai pakaian adat,” kata Yustinus yang menjual kainnya Rp 400.000 hingga Rp 5 juta per lembar atau per sarung. Yustinus juga menerima titipan kain dari para perajin, antara lain dari Kampung Manyili, Rende, dan Melolo, untuk dijual di tokonya.



Kain tenun khas Sumba yang berusia 80 tahun
 di museum milik Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba
 di Sumba Barat Daya NTT

Kain tenun sunda bermotif binatang serta dekoratif lain yang sarat makna


Sejarah kebudayaan

          Kain tenun Nusantara, termasuk di Sumba, memiliki sejarah panjang. Tradisi menenun diwariskan dari generasi ke generasi sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu. Dulu, tenun tidak hanya untuk pembalut tubuh, tetapi juga alat barter, mas kawin, dan upacara adat.

           ”Tenun ini memuat sejarah kebudayaan. Dulu, di Sumba, satu lembar sarung tenun yang bagus bisa ditukar dengan seekor kuda. Menenun dilakukan oleh hampir semua perempuan. Saya pun bisa bersekolah karena tenun Mama. Kain tenun ikat Sumba Timur, menurut saya, paling indah dan ada di museum-museum mancanegara. Selembar kain memiliki makna, berbicara lewat simbol. Motif buaya, misalnya, melambangkan kekuatan, sedangkan penyu simbol kelembutan,” tutur Ketua Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba Robert Ramone saat ditemui di kantornya di Sumba Barat Daya. Di museumnya, Robert menyimpan kain tenun berusia 80 tahun.

         Kayanya nilai budaya lokal dalam kain tenun ini pulalah yang menggerakkan hati desainer Merdi Sihombing untuk mengembangkan kain tenun Nusantara. Kain tenun memuat kearifan lokal yang bernilai tinggi dan mendefinisikan Indonesia. Kisah-kisah filosofis di dalam motif tenun Nusantara menjadi kekuatan yang membedakan fashion Indonesia dengan negara lain. Selain Merdi, desainer Oscar Lawalata dan Stephanus Hamy juga mengembangkan wastra Nusantara dalam desain mereka.

          Dalam buku Perjalanan Tenun Merdi Sihombing (2013), Merdi menuturkan perjalanan mode wastra Nusantara-nya yang ia sebut travels in cloth selama satu dekade. Sebagai seorang Batak, Merdi memulai perjalanan yang ia sebut sebagai eksplorasi budaya tekstil dari tanah kelahirannya. Selanjutnya, ia menjelajahi Batubara di Sumatera Utara, Mentawai di Sumatera Barat, Bungo di Jambi, Dayak di Kalimantan Timur, Banten, Rote Ndao dan Alor di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua. Di Papua, ia bahkan memodifikasi noken untuk dijadikan produk fashion.

          Tenun menyusul batik yang lebih dulu mengglobal dan telah ditetapkan menjadi warisan dunia. Sertifikat Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menyebutkan, batik merupakan warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (masterpiece of the oral and intangible cultural heritage of humanity). UNESCO juga memberikan sertifikat best practice untuk Diklat Warisan Batik Indonesia pada 2 Oktober 2009, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Indonesia.

Steven, pedagang kain di Pasar Tradisional Radamata, Sumba Barat Dayaa, NTT.
 Satu lembar kain tenun ia jual antara Rp 250.000 hingga Rp. 400.000


         Dalam bukunya, Batik: Filosofi, Motif, dan Kegunaan (Penerbit Andi, 2013), Adi Kusrianto menolak jika batik hanya disebut sebagai teknik perintang warna. Kalau hanya teknik perintang saja, semua daerah di dunia juga punya. Bahkan, teknik perintangan ini sudah muncul sejak zaman Paleolitikum untuk membuat lukisan. Batik adalah kain dengan hiasan yang dibuat dengan teknik wax resist dyeing (teknik perintang lilin) yang menggunakan ragam hias tertentu dengan kekhasan budaya Indonesia sebagai busana atau keperluan lain.

        Setelah perkembangan motif batik, pasca pergerakan revolusi, Bung Karno pada 1950-an memikirkan munculnya batik nasional. Bukan lagi batik dari Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, atau Lasem. Tokoh yang menggawangi lahirnya batik nasional di antaranya KRT Hardjonagoro (Go Tik Swan), Iwan Tirta, dan Saridjah Niung Bintang Soedibjo (Ibu Soed). Batik digabungkan dengan teknik anyaman (tenun) dan bordir (sulaman) sehingga muncullah istilah adiwastra. Luar biasa eloknya batik kita ini.


Emerensiana Kadi (34), perajin tenun dari Sumba Barat Daya NTT menenun kain di rumahnya untuk dijual ke pasar. Satu lembar kain biasa ia selesaikan dalam lima hari, di sela kesibukannya sebagai guru dan ibu tiga anak


Gadis Sumba mengenakan tenun untuk menari


Wastra di era MEA

         Benar Indonesia memiliki kekuatan wastra yang banyak dan bagus. Akan tetapi, pemanfaatannya belum optimal. Ada perbedaan kemajuan antara sentra-sentra wastra di Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Indonesia sebelah barat (Jawa, Sumatera, Bali) lebih maju dibandingkan dengan Indonesia tengah (Nusa Tenggara Barat, NTT, Kalimantan, Sulawesi), apalagi Indonesia timur (Maluku, Papua). Perbedaan itu tidak saja menyangkut perbedaan infrastruktur fisik, komunikasi, dan dukungan pemerintah, tetapi juga semangat dan kompetensi untuk bersaing. Hal ini dikatakan Koordinator Sentra Kreatif Rakyat (SKR) William Kwan.

        ”Contoh, masyarakat luas di Indonesia masih belum mengenal kain batik Batang dan kain batik Pacitan, padahal usia industri batik di Batang dan Pacitan sudah ratusan tahun lamanya. Kita tidak mengenal adanya bekas pabrik pewarna indigo Hindia Belanda di belakang Candi Borobudur. Masyarakat umum di Toraja sudah tidak mengetahui bahwa kain sarita dulu dibuat dengan teknik batik,” papar William.

          Sebagian kecil daerah siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, misalnya Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Namun, sebagian besar belum siap. Ketidaksiapan sentra-sentra wastra tersebut sudah ditunjukkan saat ini, saat mereka diserbu produk substitusi dari daerah lain yang menggunakan teknologi lebih modern dan harga lebih murah.

         ”Sebagai contoh, tenun tradisional di Sumba, Flores, Timor, atau Toraja tertekan oleh serbuan produk imitasi berupa tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) dan batik printing dari Jawa. Sudah jadi rahasia umum, tenun ATBM dari Troso (Jepara) dan batik printing Pekalongan atau Solo dengan motif tenun Sumba dijual di Pulau Sumba sendiri sehingga mendesak penjualan tenun ikat tradisional buatan perajin di Sumba Timur dan Sumba Barat,” ungkap William.



Warga Kampung Bukaregha Kecamatan Loura Sumba Barat Daya NTT,
 lelaki dan perempuan, mengenakan kain tenun dalam satu upacara adat,
 5 November 2014


         Bagi William, saat ini dibutuhkan pemetaan daya saing per sentra wastra tradisional, baik dari sisi pengetahuan produk, mutu produk, desain, harga jual, kemampuan pemasaran, maupun manajemen kewirausahaan secara umum. Koreksi untuk peningkatan daya saing dilakukan secara kontekstual dan komprehensif.

         William sendiri saat ini masih membina SKR di lima daerah percontohan, yaitu Batang, Pacitan, Magelang, Toraja Utara, dan Manggarai Barat. Baguslah, para perajin tenun di Manggarai Barat, NTT, kini tidak hanya mengenal warna hitam dengan tenun sederhana. Sejumlah kelompok tenun kini belajar membatik dan menyulam.

         Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada kabinet Indonesia sebelumnya telah menjabarkan kekuatan wastra Nusantara ini menjadi produk ekonomi kreatif. Menteri Mari Elka Pangestu waktu itu berharap Indonesia mampu menjadi salah satu pusat mode dunia pada 2025. Indonesia menjadi trendsetter, bukan follower. Pemanfaatan kekayaan budaya lokal dalam dunia mode membuat Indonesia unik di mata dunia (Kompas, 28 November 2014). Foto-foto: Susi Ivvaty
   


            31-12-2013. Hari terakhir di tahun ini mendorong banyak orang untuk reflektif, evaluatif, korektif, dan kontemplatif. Membaca refleksi akhir tahun teman-teman, baik dalam bentuk status/note di Facebook, kultwit di Twitter, atau tulisan panjang/pendek di blog, saya pun membatin dengan spontan, "Eh, pinter-pinter bener nih temen-temen menggambarkan gimana perasaan mereka selama setahun ini". Bayangkan! Setahun! Uh!
        Bagaimana dengan saya? Saya selalu bingung dan merasa gamang di saat-saat seperti ini. Saya juga ingin berefleksi, mengevaluasi apa yang telah saya lakukan selama setahun ini. Apa saja hal-hal baik yang telah saya lakukan dan akan saya lanjutkan di tahun depan. Sebaliknya, apa saja hal-hal buruk yang akan saya hapus dan perbaiki di tahun 2014.
         Yang terjadi, saya lantas merunut berbagai kejadian dan rupa-rupa rasa dalam diri sejak tanggal 1 Januari 2013. Hasilnya? Walhasil banyak yang lupa. Beneran lupa. Misalnya menjawab pertanyaan ini, "Apa momen apa yang paling berkesan?" Apa ya? Saya langsung menggaruk pantat saya yang tidak gatal itu. Saya berpikir keras. Apa ya?
          Apakah momen berarti itu saat saya bisa liputan ke luar negeri? Tahun ini "hanya" dua kali saya liputan ke luar negeri. Pertama ke Manila Filipina dan kedua ke Milan Italia. Rasanya kok biasa saja, terlalu mewah kalau liputan di luar negeri disebut sebagai momen berarti. Ya memang berarti, tapi liputan kan memang pekerjaan saya. Kalau liputannya ke luar negeri itu ya semacam bonus, dan itu ya sudah sewajarnya. Lalu apa?
          Sebentar. Saya berpikir lagi. Nihil. Gak ketemu. Saya kembali merasa gamang. Apakah saya begitu cueknya sehingga tidak merasakan sesuatu yang istimewa dalam menjalani hari-hari? Apakah kehidupan ini sudah sebegitu membosankan sehingga saya merasa biasa saja? Apakah segala hal sudah menjadi mainstream sehingga tidak menonjol lagi? Apa? Apa?
          Januari. Februari. Maret. April. Mei. Juni. Juli. Agustus. September. Oktober. November. Desember. Masak sih 12 bulan tidak merasakan apa-apa? Mendadak saya mengingat hal-hal sederhana. Misalnya ketika saban malam di musim "banyak nyamuk" saya harus membunuh puluhan nyamuk dengan raket listrik demi melindungi kedua anak saya dari gigitan nyamuk ganas itu. 
Saya melakukannya sampai dini hari, karena ketika saya mencoba tidur, masih ada saja nyamuk mendengung dan menggigit. Astaga gatelnya minta ampuuuuun.
          Tiba-tiba saya sadar. Saya memang sulit menemukan momen-momen istimewa itu karena momen itu bukan sebuah titik, bukan sebuah peristiwa di tanggal tertentu. Selama setahun ini saya melihat dua anak saya, Fata dan Silmy, tumbuh. Mereka berulang tahun ke-11 dan ke-9 tahun ini. Fata sudah kelas enam SD dan beberapa bulan lagi harus siap dengan seragam baru di SMP. Silmy juga makin terlihat "yakin dengan dirinya", dan dia bilang gini, "Ibu, aku belum mau menstruasi dulu....". Aiiish...
          Setahun ini menjadi momen istimewa, ketika saya melihat dan merasakan anak-anak berkembang. Mereka makin suka main games, mengutak-atik aplikasi di Ipad, dan menggambar karakter-karakter di games dan merangkainya menjadi sebuah komik lucu. Mereka menulis "Aku sayang Mama" pada waktu-waktu tertentu dan sewaktu Hari Ibu.  Bukankah itu luar biasa?
         Maka, marilah kita menggelinding saja di jalan beton kehidupan ini. Target sepuluh tahun ke depan, apa? Eh, kok kayak pertanyaan untuk para atlet saja, tahun depan harus dapat medali emas Asian Games. Hidup itu bukan sekadar mengejar target. Hidup itu  
perkara menikmati setiap detik waktu yang berjalan. Rasanya bisa saja lambat maupun cepat. Itu menurutku lho, ya?
         Seperti bio saya di Twitter (cieeee Twitter nih yeee), let's embrace the NOW, the moment. Bukannya tidak ada harapan ke depan. Selalu ada harapan, itu naluri kok, pasti sudah terinternalisasi dalam diri kita. Misalnya harapan agar anak-anak kita bisa bersekolah dengan layak, syukur bisa ke luar negeri. Nah, kalau harapannya seperti itu, kan, pasti usahanya harus sebanding, bukan? Kalau hanya jualan kaos kecil-kecilan, ya susah mau nyekolahin anak ke LN.. (eh, padahal saya lagi usaha jualan kaos bertema voli, lho, dibeli yach? Ping! me #eaaaaa).
         Cukup, ya? Mendingan saya akhiri catatan ini. Saya kalau bicara terlalu banyak itu penyakitnya, susah mencari ending yang tepat. Bisa tidak terarah, menyesatkan. Hihihihi.


         Selamat tahun baru 2014! "You may delay, but time will not" (Benjamin Franklin)

31-12-2013
       Abah Moel Umboh (68), cosplayer karakter Kamesennin di anime Dragonball. Abah ini tinggal di Cimahi Bandung dan berprofesi sebagai pelukis, juga membuat kolasi dengan pelepah pisang. Kalau ada acara jumpa cosplayer, Abah menyempatkan diri untuk datang. "Ini kan hobi dan cara bersilaturahmi, " kata Abah. Dia bilang, yang penting mencari kawan dan bukan lawan, Setuju, Abah!!
                                                       








Mengcosplaykan Indonesia, meng-Indonesiakan Cosplay

          Berdandan itu naluri. Berdandan dengan busana aneh-aneh itu pilihan. Nah, kalau berdandan dengan kostum seperti karakter/tokoh di film atau komik,  itu hobi. Sebuah hobi yang seru.
         Saking serunya, para peraga tokoh film, anime, atau komik yang biasa disebut dengan cosplayer ini pun membentuk komunitas. Mereka berkumpul, saling bertukar informasi tentang komik dan anime, dan unjuk kebolehan dalam menirukan karakter.
          "Seru karena kami ngumpul di satu komunitas dengan hobi yang sama. Gunanya komunitas selain untuk berteman dan memanfaatkan waktu luang, juga saling tukar informasi segala hal berbau anime dan cosplay," kata Dessy, penggemar anime yang juga berjualan kostum serta aksesoris, saat dijumpai di JIEXPO Kemayoran, pertengahan November 2013.
          Anggota Komunitas Cosplay Indonesia di "page" Facebook mencapai ratusan orang dan mendapat belasan ribu"like". Ada juga Komunitas Harajuku dan Cosplay Indonesia yang mendapat lebih dari 28.700 "like" hingga Jumat, 15 November 2013. Semua saling mengait, terkait, dan berkait. Ada juga komunitas cosplay yang ada di daerah-daerah seperti Komunitas Cosplay Pekanbaru, Komunitas Cosplay Bengkulu, dan Komunitas Cosplay Sekayu, dan Komunitas Cosplay Medan.
          Selain untuk bertukar informasi seputar kegiatan, para anggota komunitas juga boleh berjualan kostum serta aksesoris cosplayer di grup Facebook. Ada juga yang berbagi informasi mengenai beasiswa bersekolah di Jepang, lalu informasi tiket gratis Jakarta-Tokyo.
          Komunitas Cosplay Indonesia juga menjembatani dan mewadahi grup-grup yang lebih spesifik lagi, misalnya Grup Naruto Indonesia. Grup ini tentunya berisi orang-orang yang suka dengan anime Naruto. Ada juga Grup One Piece dan grup Tokusatsu Indonesia. Grup lain yang juga beralifiliasi dengan komunitas ini misalnya grup Cosplay Photography dan grup Belajar Kostum Cosplay. Bahkan, ada lho grup khusus untuk ajang jual beli kostum second (baju bekas).
          KCI juga memiliki blog, bisa ditengok di KomunitasCosplayIndonesia.blogspot.com. Follower akun @indocosplay Twitter hingga Jumat pukul 20.00 ada 870 orang. Memang benar jika anggota komunitas ini gila dengan cosplay. Bio di Twitter-nya saja "Mengcosplaykan Indonesia , mengIndonesiakan cosplay".
           Bagi para cosplayer, mengenakan kostum tokoh anime itu seperti menjelma menjadi si tokoh itu. "Asyik aja. Kita jadi masuk ke dalam karakter si tokoh. Pertama suka sama anime-nya dulu, lalu mulai tertarik dengan salah satu tokoh. Lalu lama-lama pengin bisa menirukan karakter itu. Aku awalnya menonton anime Gosick di web. Langsung suka saja sama Victorique de Blois. Suka soalnya lucu dan pinter, masih kecil tapi pembawaannya seperti lady. Sayang, papanya manfaatin dia, di cerita itu," ujar cosplayer Victorique.











Follow by Email

Our mission of increasing global understanding through exploration, geography education, and research.