Susi Ivvaty
You are browsing with label: Showing posts with label Memori. Show all posts
Permata Biru
Oleh: Nicky Astria
Lelah aku menunggu dalam pelukan sunyi mencekam
Rinduku melambung tinggi bergumpal di atas awan
Beraraklah jauh di seberang lautan
Di sana di tanah seberang sebutir permata biru
Sinarnya seperti bintang jatuh menusuk hati
Membakar jiwaku oooohhh
Reff:
Berapa lama berapa jauh berapa lagi rintangan
Masih kudengar jerit cintamu malam-malam berlagu
Ku percaya mata hatiku kan bersinar bersinar lagi
Abadilah cinta suciku……
Aku suka sekali main, namanya juga anak. Bukankah masa kanak-kanak adalah masa bermain? Entah bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain, atau..ya bermain saja. Aku paling senang bermain di alam dan bersama alam.

Masa bermainku aku habiskan bersama anak-anak Kauman, kampung di sebelah utara kampungku. Kampungku sendiri bernama Karang Tengah. Nah, kalau di sebelah utara Kauman ada kampung Coyudan. Teman-temanku hampir semuanya dari Kauman. Bukan apa-apa, hanya karena tak ada yang sebaya denganku di Karang Tengah. Kebetulan pula, rumah kakek dan Pak Abu di Kauman, jadi klop.

Temanku, mmmmm banyak. Sri, Yono, Budi, Yuni, Sofan, Eny, dan masih ada beberapa yang lain. Kami mempunyai tempat main favorit, yakni Kali Mbrangkongan. Aku tak tahu ujung sungai ini, tapi sepertinya dari somewhere di kaki Gunung Sindoro. Muaranya pasti laut bukan?. Tempat favorit di Mbrangkongan adalah satu titik di Kampung Ndangkel.

Dulu, kali ini terasa menyeramkan, salah satunya karena di satu sisinya berdiri pohon trembesi. Katanya ini pohon tempat tinggal jin jahat. Kalau ada orang yang lewat pohon itu, ia akan melihat penampakan, semacam memedi gitulah. Hiiiiii....

Lagipula, untuk menjangkau kali itu dari Kauman, kami harus melewati pematang sawah berkelok-kelok. Rasanya jauh....sekali. Di kanan-kiri sawah, menjulang pohon-pohon lebat. Suasana waktu itu betapa sangat nyaman. Tenang dan damai.

Sekarang, kali Mbrangkongan bahkan terlihat sangat kecil. Kesan seram tak ada lagi dan pohon trembesi, meski masih ada, juga tak tampat menyeramkan. Mungkin jin setan kuntilanak penghuni itu sudah kabur, tak tahan dengan bising bus-bus di terminal sebelah. Atau, tertelan megahnya rumah-rumah yang berdiri di sekelilingnya.

Dulu, ada batu besar sekali di kali itu. Di sampingnya ada pohon beringin dengan akar gantung menjuntai. Nah, tali itu biasa kami gunakan untuk main ayunan. Senangnya..... Hanya bermain ayunan saja sudah senang. "Melawat" ke kali Mbrangkongan selalu kami lakukan tiap minggu. Kadang hanya bertiga, bisa juga berlima, atau lebih banyak lagi.

Di batu itu, aku dan teman-teman bercerita tentang apa saja, lalu menyanyi lagu apa saja yang kami bisa. Nah, ceritanya waktu itu Yuni ada yang naksir. Namanya Kholis. Ia tinggal di kota lain, namun punya kerabat di Parakan Kauman. Jadi, kalau tidak sepekan sekali ya dua pekan sekali, ia berlibur ke Kauman.

Cerita Yuni dan Kholis seru abis. Kami kerap mengolok-olok, dan pipi mereka bersemu merah. Cinta monyet saja, karena setelah pertemuan demi pertemuan dan kami beranjak remaja, kisah cinta Yuni dan Kholis berakhir.

Seiring merambatnya waktu, berakhir pula kerekatan pertemanan antara aku, Sri, Eny, dan lainnya. Juga...berakhir pula cerita kali Mbrangkongan, dengan segala kenangannya.

Hhhh. Jadi begitulah. Sebaiknya aku akhiri saja kisah masa kecilku. Masih ada selaksa cerita sebenarnya, tapi nanti bisa berbusa-busa dan bahkan kehilangan makna. Biarlah sisanya aku simpan sendiri, di benakku.

----TAMAT----
Yang ini pendek saja ya... Dulu orangtuaku punya sawah di Segawen, kampung kecil di sebelah barat Parakan. Sawah itu biasa ditanami tomat, cabe, dan macam-macam hasil ladang (jadi, bukan sawah tapi ladang ya?). Pokoknya begitulah.

Aku senang sekali kalau diajak ke sawah, apalagi kalau pas panen. Pernah aku panen tomat ceri. Aku petik dari ujung ke ujung, terus memutar, dapat sak tenggok. Puassss rasanya. Setelah itu, aku lalu pergi ke rumah pak siapa.... gitu (aku lupa), dia orang yang mengelola sawah bapakku.

Ini dia bagian paling asyik. Aku makan dengan lauk "jangan gereh" atau sayur ikan asin. Ikan asin digoreng, lalu dimasak dengan cabe hijau. Entah apa bumbunya, tapi rasanya....mmmmm uenake...... Top banget.

Pulang dari Segawen, aku naik vespa bersama bapak. Jadi ingat lagu Cica. Di pagi ini....aku kan bernyanyi...seindah bunga-bunga berseri..... Mengalun merdu...dan langit membiru..Burung-burung pun ikut meniru. Kumbang-kumbang pun terbang dan menari-nari..Menghampiri daku bernyanyi.. Burung-burung berkicau dan berganti-ganti. Hatiku gembira bermain bersama...mereka... La la la la.....
Sawah....Padi menghijau....Sungai jernih....Senyum warga desa.....Suasanya senyap.....Cacing....Hembusan angin sepoi....Gunung di kejauhan.....Pematang....Tomat...Cabe...Kobis....Buncis....Lenguhan kerbau....Tawa renyah anak kecil....Harmoni tak terlupakan.....
Bapakku seorang kyai salaf. Mmmm, maksudnya kira-kira ulama lulusan pesantren tradisional, begitulah. Biasanya pesantren demikian mengikuti organisasi Nahdhatul ULama (NU) dan penganut madzhab (aliran) Imam Syafi'i. Dalam hal fiqih, Imam Syafi'i adalah panutannya. Contohnya, kalau mau sholat lalu senggolan dengan orang berlainan jenis ya batal. Atau, aurat yang harus ditutup sewaktu sholat bagi perempuan adalah muka dan telapak tangan. Aturan-aturan seperti itulah.

Baiklah. Bukan itu yang ingin kubicarakan sebenarnya. Aku ingin bilang, bahwa karena bapakku adalah orang pesantren dan diberi status kyai oleh masyarakat, otomatis anaknya pun harus taat beribadah. Lebih bagus kalau bisa memberi contoh.

Aku mulai mengenal kata "ngaji" barangkali sejak masih dalam kandungan. Bapakku mengaji sewaktu perut ibuku membuncit. Sewaktu aku lahir, bapak pun mengaji. Hari-hari bayiku selalu diisi lengkingan suara bapak membaca ayat Al-qur'an. Jangan salah, bapakku qori' dan pemain orkes gambus di kotanya. Jadi, ditanggung suaranya pastilah siiippp.

Aku tak ingat kapan aku mulai bisa membaca huruf hijaiyah dan akhirnya bisa mengaji Al-Quran. Mungkin, mengaji sangat mudah dipelajari hingga aku benar-benar tak ingat pernah belajar. Lancar...car....

Ada lagi ngaji yang lain, yakni ngaji kitab kuning alias kitab gundul. Untuk ngaji ini, aku harus menguasai ilmu tata bahasa Arab atau istilah pesantrennya Nahwu dan Sharaf. Nahwu dan Sharaf sama dengan linguistik dalam tata Bahasa Indonesia.

Aku ngaji kitab di sebuah pesantren kecil tak jauh dari rumah. Di sana aku masih juga belajar Tajwid untuk membaca Al-qur'an secara benar. Selain itu, aku belajar kitab Safinah dan Taqrib (ini soal fiqih), lalu Nahwu dan Sharaf, lalu belajar ilmu Tauhid (ketuhanan), dan Tarikh (sejarah Islam). Pokoknya komplit plit.... Naik tingkat, aku belajar tafsir Jalalain (ini tafsir Al-Quran paling sederhana dan pendek). Kelak, aku belajar juga Qawaidul Fiqhiyah atau semacam filosofi aturanlah.

Wis lah. Pokoknya, masa kecilku seperti kekurangan waktu saja. 24 jam sehari rasanya tidak cukup. Sekolah, ngaji, bermain...... Otakku gak kuat. Maka jangan heran jika banyak ilmu yang lenyap begitu saja. Lupa semuanya, hahahahahah.... (tapi, bukankah yang penting adalah mengamalkan ilmu?)

Ngaji sudah seperti santapan wajib buatku. Subuh ngaji, maghrib ngaji, usai maghrib hingga usai isya' ngaji lagi. Belum kalau ada pengajian tambahan di sebuah langgar dekat rumah. Aku ikut juga. Ngaji ngaji ngaji...... Bahkan mandi pun ada aturannya, harus pakai "telesan" (semacam kain penutup agar mandinya tidak telanjang bulat). Katanya, malaikat penjaga diri akan malu melihat "anu" kita. Itu katanya. Namun kata bapak, itu bagian dari adab atau sopan santun saja. Kata bapak, bahkan dalam berhubungan seks pun kita tak boleh telanjang bulat. Wah wah wah......

Otak kanak-kanakku belum bisa protes. Ngaji..ngaji...ngaji....Aku menjalaninya sebagai rutinitas. Aku bertemu teman yang sama setiap sore. Kadang, saking bosannya ngaji, aku berceloteh saja seperti bayi di dalam kelas. Atau, bergunjing soal ustad yang sedang bicara bla bla bla....

Ayo ngaji...ngaji...ngaji... Cari ilmu dan pahala sebanyak-banyaknya.......

.....bersambung....
Aku telanjur dilahirkan sebagai “pemberontak”. Sengaja aku kasih tanda “—“ karena kadar pemberontakanku rendah saja. Aku juga bukan sebangsa pemberontak yang semau gue dan tidak bisa dilenturkan. Pemberontak kecil-kecilanlah.
Ceritanya begini. Pada suatu ketika di saat kelas enam SD, aku pernah sangat jengkel dengan perlakuan ayah dan ibu. Aku lupa masalah persisnya, namun sebangsa dilarang melakukan sesuatu gitulah. Entah dipengaruhi kuntilanak dari mana, saat itu aku marah besar dan memutuskan untuk minggat.
Kayaknya aku sedang senang-senangnya dengan kata “minggat” itu, kalau tidak salah mendengar pertama kali di sebuah pertunjukan ketroprak yang disiarkan TVRI. Nah, sewaktu sedang marah itulah aku bilang, “Pokoke aku arep minggat”.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: minggat ke mana? Dengan siapa? Apa bekalnya? Sampai kapan? Dan sederet pertanyaan lain. Jelas lah aku tak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Kan aku masih kecil.
Aku lantas mulai mengepak beberapa lembar baju, rok, serta celana ke dalam dan aku letakkan di atas sarung yang dibentangkan. Ujung sarung yang satu kemudian diikat dengan yang lain secara diagonal. Adegan seperti itu pernah pula aku lihat di sandiwara televisi.
Aku pun memanggul bekalku setelah kumasukkan beberapa potong kue. Ke mana? Bingung juga. Aku lantas berjalan menuju rumah (almarhum) pakde yang biasa aku panggil Pak Abu. Jarak rumahku dengan rumah Pak Abu hanya sekitar 25 meter. Ah, kebetulan. Gak ada orang. Aku berjingkat mencari-cari tempat yang enak untuk bersembunyi.
Aha, aku melihat lubang di langit-langit. Pak Abu biasanya masuk ke lubang itu menggunakan tangga, salah satunya untuk memperbaiki listrik atau mengambil bangkai tikus. Hiii. Nekat, aku ambil tangga. Aku pun naik dan masuk ke lubang itu. Cukup lapang juga, dan tidak terlalu kotor, mungkin karena Pak Abu kerap naik ke situ.
Aku mulai bingung mau melakukan apa. Lebih baik tidur saja, membiarkan semua orang bingung mencariku. Ide cemerlang. Aku pun membuka buntalanku (hehe, kata buntalan ini mengingatkan aku pada cerita Pak Janggut di Majalah Bobo), dan tidur di atas tumpukan pakaian. Aku benar-benar tertidur hingga maghrib.
Bangun, aku mulai takut. Itu karena di atas ternyata gelap, hanya mendapat penerangan dari lampu di bawah. Gimana ya? Marahku sebenarnya sudah surut. Namun, aku ingin semua orang bingung dulu dan kalang kabut mencariku. Namun, aku tak mendengar suara apa pun. Sebel juga. Satu-dua-tiga detik, ah….kuputuskan untuk turun.
Aneh, ada Pak Abu sedang mengaji. Hanya Pak Abu. Aku lalu berjalan menuju rumah sambil membawa buntalanku. Memang ada bapak, ibu, bude, serta siapa lagi aku sudah lupa. Tak ada yang bertanya. Mungkin mereka hanya menyangka aku bermain dengan teman-teman seperti biasa. Sebel gak sih tidak diperhatikan.
Ibukku ternyata memperhatikan buntalan yang aku bawa. “Seko ngendi (dari mana)?” tanya ibu. “Minggat,” jawabku, setengah ketus. Hahahaha, orang-orang mulai tertawa. “Minggat nang ngendi?”. “Ting piyan ndaleme Pak Abu”. Hahahah, tawa orang-orang makin keras.
Sedikit malu, aku berfikir, “Kenapa tadi tidak aku teruskan saja di atap itu sampai esok hari?”
……bersambung……
Zaman aku kecil, masih banyak permainan anak-anak yang menarik. Cublak-cublak suweng, siapa sih yang enggak tahu? Lalu lompat karet (bahasa Jawanya yeye) atau grobag sodor. Di masa kini, paling-paling yang tersisa tinggal petak umpet.

Ada beberapa permainan yang aku suka, seperti scooby doo, gabur dan qiu-qiu, sudamanda, serta panah-panahan. Bingung? Baiklah akan aku jelaskan satu persatu. Scooby doo, ini hanya meminjam nama tokoh kartun anjing, namun permainnya tidak ada kaitannya dengan anjing-anjingan. Memang, inti permainan ini adalah lari ke sana dan ke mari. Beberapa pecahan genting ditata bertumpuk. Disiapkan pula bola yang dibuat dari gulungan plastik yang diisi beberapa kerikil dan diikat dengan karet gelang. Permainannya mudah saja. Bola dilempar ke tumpukan genting, dan saat terjatuh semua lari. Teman yang mendapat giliran jaga mengejar dan melempar bola itu ke arah teman yang lain, sementara teman yang lainnya lagi segera mendekati tumpukan genting dan menatanya kembali. Jika genting sudah ditumpuk dengan rapi dan teman yang jaga belum berhasil melemparkan bolanya, berarti ia harus jaga lagi. Begitu seterusnya. Seru ya?

Kalau gabur dan qiu-qiu, tentunya sudah paham kan? Ini permainan menggunakan gambar kartun kecil-kecil yang waktu itu sedang trend. Untuk permainan ini, kita lewatkan saja.

Sudamanda. Istilah Betawi-nya selamanda. Yang ini juga kita lewatkan saja.

Yang paling aku gemari dari semuanya itu adalah panah-panahan. Mau tahu? Mmmmm, ini permainan dalam tim, mirim mencari jejak dalam Pramuka. Jadi, ada juga unsur kerjasama dan tolong-menolongnya. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok Z. Biasanya, satu kelompok berisi lima-enam orang. Alat yang digunakan cukup kapur tulis. Biasanya, kami mengenakan kostum seperti pahlawan, dengan ikat kepala dan tongkat kayu. Kalau sudah begitu, rasanya kelompok kami yang paling hebat.

Kelompok A mulai berjalan menjauh, sementara kelompok Z menunggu hingga 15-20 menit. Anggap saja, aku berada di kelompok A. Nah, kami pun berlari. Kapur kami gunakan untuk membuat tanda panah, menunjuk arah yang kami tuju. Asyiknya .... ketika kami harus masuk ke gang sempit yang sebelumnya belum pernah kami lewati. Atau......... kuburan. Mmmmm seram tapi benar-benar mengasyikkan. Kami harus berjalan cepat agar tidak terkejar. Ketika kami merasa sudah capai, atau merasa cukup jauh berjalan, kami lalu membuat gambar rumah di tengah jalan dan setelah itu kami bersembunyi secara berpencar. Kelompok Z tiba di tempat itu tidak lama kemudian, dan begitu melihat gambar rumah mereka pun mulai mencari kami satu per satu.

Setelah semuanya ketemu, kami pun bersalam-salaman dan pulang ke lokasi awal bersama-sama. Sepanjang jalan, aku menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, Maju Tak Gentar, dan lain-lain. Peluh bercucuran, namun suara kami makin lantang. Wuih........heroik sekali. Seperti pahlawan betulan saja rasanya. Tak terasa, jam telah menunjuk angka sepuluh. Malam hari.


.........bersambung...........
Tiba waktunya aku masuk sekolah dasar. Masih ingat banget saat diantar bapak pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak dari rumah ke sekolahku dekat saja, sekitar 100-an meter. Itu hari pertama aku masuk sekolah, dan aku hanya membawa sebuah buku tulis, pensil, dan penghapus.

Ibu guruku bernama Bu Tun: nama yang simpel, mudah diingat, dan mudah diucapkan (terutama buat orang Jawa). Hari pertama, selain berkenalan kami juga diajari membaca dan menulis, tepatnya mengenal abjad dan angka. Ini sih aku sebut sebagai pengulangan, karena aku yakin sebagian besar temanku pasti sudah bisa membaca dan menulis sewaktu lulus TK. Barangkali karena tidak mengetahui kurikulum dan berfikir pendek, bapakku protes (waktu itu para orangtua memang dibolehkan ikut masuk kelas). "Masak sudah masuk SD masih diajari seperti itu? Pelajaran apa itu" teriak bapak dengan lantang.

Semua yang mendengar menoleh ke arah bapak. Bapakku masih saja tertawa dengan --sedikit-- sinis. Wah, aku malu sekali lo waktu itu, takut kalau ibu guru membalas perlakuan bapakku itu ke aku. Apa kek, mana aku tahu. Namun, BuTun menjelaskan dengan sabar dan tidak emosional. Bla bla bla....singkat kata bapakku mulai manggut-manggut.

Esoknya, esoknya lagi, dan esoknya lagi, aku merasa Bu Tun seperti tidak menyukaiku. Pernah ia bertanya kepada semua murid tentang pekerjaan orangtua masing-masing. "Bapakmu bekerja di mana, Mimi?"
"Di pasar, Bu," jawab Mimi.
Bu Tun beralih ke aku, "Bapakmu bekerja di mana?"
"Di Temanggung," jawabku mantap.
Bu Tun tampak kurang sreg dan beralih ke Herman. "Bekerja di mana Bapakmu?"
"Di Depag, Bu (maksudnya Departemen Agama)," sahut Herman.
"Bagus. Ya begitu itu jawaban yang benar," kata Bu Tun sambil melirikku.
Aku sempat bingung. Bukankah "di mana" adalah pertanyaan untuk tempat? Apa salahnya aku menjawab Temanggung? Tapi, jawaban Herman betul juga. Bukankah Depag juga nama tempat? Atau nama instansi? Wah wah wah........aku merasa betul-betul blo'on waktu itu.

Aku merasa, Bu Tun memberikan perhatian khusus padaku. Apa ia masih sakit hati dengan protes bapakku waktu itu ya? Namun, lambat laun aku mulai enggan memikirkannya, tentu karena aku harus berkonsentrasi pada pelajaran sekolah yang mulai makin sulit. Selain itu, aku juga mulai mempunyai banyak teman dan kegiatan.

Kelas dua, pengajar masih tetap Bu Tun. Namanya juga SD Negeri. Sudah miskin, guru minim. Ya pasrah sajalah. Aku merasa, sikap Bu Tun tidak lagi seperti dulu. Yang jelas, ia makin baik dan tetap sabar membimbing murid-muridnya.

Kelas tiga.......selamat tinggal Bu Tun. Guru kami sudah berganti. Begitu pula kelas empat, kelas lima, dan kelas enam. Namun, hubunganku dengan Bu Tun seperti tidak pernah luntur. Aku dan beberapa teman dekat seperti Wati, Fauziya, Ruroh, Herman, dan Anto masih selalu main ke rumah Bu Tun, guru pertama kami di SD. Kalau tidak berenam, ya hanya bertiga saja, aku, Wati, dan Fauziya yang mengunjungi Bu Tun.

Hingga lulus SD dan kami semua masuk SMP, kenangan akan Bu Tun masih melekat. Bahkan, kami masih bisa menyempatkan diri main ke rumah Bu Tun sepulang sekolah atau saat aku dan teman-teman SD ku berkumpul. Khusus buatku, Bu Tun adalah guru terbaik.

Tahun demi tahun berlalu. Nama Bu Tun makin tak terfikirkan, hingga beberapa waktu lalu (di tahun 2005, di saat aku berumur 30 tahun) seseorang tiba-tiba menyapaku melalui email, "Ini Mbak Rona yang dulu muridnya Bu Tun? Kenalkan, aku putranya.....".

........... bersambung..............
Our mission of increasing global understanding through exploration, geography education, and research.