You are browsing with label:
Showing posts with label Sport. Show all posts
Penonton Riuh, Calo Tiket Pun Gentayangan
Tereteteteeetttt... suara terompet membahana. ”Oleeeee,” ribuan penonton menyahut. Pertandingan voli pantai putra di arena Horse Guards Parade pun makin panas. Apalagi pembawa acara sangat kocak dan mengoceh sepanjang pertandingan. Penonton dengan kostum aneh-aneh kian bertingkah, berteriak, menggedor-gedor lantai panggung, dan bertepuk tangan menyemangati tim jagoan masing-masing.
Mulai dari jalan raya menuju Horse Guards Parade, panitia mengarahkan penonton. ”Voli pantai ke kanan,” kata seorang petugas. Walau masih jauh dari arena, petugas menyeleksi tiket penonton. Setelah masuk, penonton kembali mengantre untuk pemeriksaan, yang sama ketat seperti di imigrasi bandara. Ikat pinggang, jaket, kaca mata harus dilepas. Pemeriksaan super ketat ini terjadi di semua arena pertandingan.
Tiba di lokasi, tetapi masih di luar arena pertandingan, rombongan penonton antre lagi untuk membeli bir, minuman ringan bersoda, sandwich, dan kue untuk bekal menonton pertandingan. Pendukung tim Brasil dan Amerika Serikat paling riuh dan giat melambaikan bendera negara. Penonton lain menyoraki tim Latvia, yang sepi dukungan. Suporter tim Jerman juga ramai, walau tidak segarang suporter Brasil.
Penonton bertambah ramai saat pertandingan perempat final, semifinal, dan final. Final voli pantai putra mempertemukan peringkat pertama dunia Alison Cerutti/Emanuel Rego (Brasil) dan peringkat tiga dunia Julius Brink/Jonas Reckermann (Jerman). Jerman tampil sebagai juara pada laga Jumat (10/8) dini hari WIB. Di bagian putri, dua tim AS meraih emas dan perak, Brasil merebut perunggu.
Boom..., spike yang keras dari Sean Rosenthal (AS),” seru pembawa acara pada laga perempat final AS versus Latvia. ”Powerful spike. Ayo penonton beri semangaaat, USA...” Penonton riuh. ”Latvia...”. Penonton bergemuruh. ”Great Britain..., oh tidak ada”. Penonton bertepuk tangan dan tertawa.
Empat warga Inggris, yang tinggal 40 kilometer arah utara London datang ke berbagai arena untuk menyemangati tim Inggris. Dave, Harry, Elly, dan Emma, yang semuanya berusia senja itu, mengecat wajahnya dengan gambar bendera Inggris. Mereka tidak memiliki tiket dan datang sebagai penggembira.
”Kami sekeluarga. Kami datang ke mana saja untuk tim Inggris Raya,” ujar Harry (64).
Banyak orang ingin membeli tiket dadakan, tetapi mustahil mendapatkannya. Tiket habis sebelum olimpiade bergulir. Beberapa mahasiswa Indonesia di London mencoba membeli tiket secara online. Di situs resmi olimpiade sepekan lalu tertulis, tiket tersedia untuk tanggal tertentu, tetapi ketika dibuka ternyata habis. Selalu terulang dan membuat frustrasi.
Namun, sekitar 10.000 kursi di satu arena pertandingan kosong, pekan lalu. Hal itu memunculkan pertanyaan, ke mana penonton ini? Mengapa kursi kosong, padahal tiket habis. Media pun memberitakan kursi kosong ini selama beberapa hari. CEO Olimpiade 2012 Sebastian Coe menduga ada skandal tiket di balik kursi kosong itu.
Menjelang penutupan olimpiade dan beberapa pertandingan hampir mencapai puncaknya, makin banyak orang mencari tiket. Di arena berkuda di Green- wich, Kamis, orang berderet di dekat stasiun kereta melambaikan kertas bertuliskan, I need ticket atau three tickets please.
Dalam situasi demikian, sama seperti di Indonesia, ada saja calo tiket. Namun, keberadaan calon tiket itu tidak jelas. ”Itu lihat orang yang pakai kaus Brasil, beli di situ,” bisik Keith, warga London di dekat arena voli pantai.
Warga Brasil itu mengeluarkan beberapa tiket, untuk tanggal 6, 7, dan 8 Agustus, sampai final. ”Untuk yang hari ini, sudah habis. Besok ada, 95 pound,” katanya.
Harga di tiket 75 pound untuk laga perempat final dan semifinal putra. ”Bagaimana kalau 80 pound?”
”Wah, turunnya banyak sekali,” ujar si Brasil.
Setelah melihat gelagat si pembeli ingin mencari calo lain. Si Brasil itu pun buru-buru berkata, ”Okelah 80 pound. Tiket ini asli dan resmi, dari organisasi olahraga.”
Batin saya, "Weladalah, dapat gratisan dijual mahal. Aseeem......". (Kompas, 11 Agustus 2012)
Tereteteteeetttt... suara terompet membahana. ”Oleeeee,” ribuan penonton menyahut. Pertandingan voli pantai putra di arena Horse Guards Parade pun makin panas. Apalagi pembawa acara sangat kocak dan mengoceh sepanjang pertandingan. Penonton dengan kostum aneh-aneh kian bertingkah, berteriak, menggedor-gedor lantai panggung, dan bertepuk tangan menyemangati tim jagoan masing-masing.
Mulai dari jalan raya menuju Horse Guards Parade, panitia mengarahkan penonton. ”Voli pantai ke kanan,” kata seorang petugas. Walau masih jauh dari arena, petugas menyeleksi tiket penonton. Setelah masuk, penonton kembali mengantre untuk pemeriksaan, yang sama ketat seperti di imigrasi bandara. Ikat pinggang, jaket, kaca mata harus dilepas. Pemeriksaan super ketat ini terjadi di semua arena pertandingan.
Tiba di lokasi, tetapi masih di luar arena pertandingan, rombongan penonton antre lagi untuk membeli bir, minuman ringan bersoda, sandwich, dan kue untuk bekal menonton pertandingan. Pendukung tim Brasil dan Amerika Serikat paling riuh dan giat melambaikan bendera negara. Penonton lain menyoraki tim Latvia, yang sepi dukungan. Suporter tim Jerman juga ramai, walau tidak segarang suporter Brasil.
Penonton bertambah ramai saat pertandingan perempat final, semifinal, dan final. Final voli pantai putra mempertemukan peringkat pertama dunia Alison Cerutti/Emanuel Rego (Brasil) dan peringkat tiga dunia Julius Brink/Jonas Reckermann (Jerman). Jerman tampil sebagai juara pada laga Jumat (10/8) dini hari WIB. Di bagian putri, dua tim AS meraih emas dan perak, Brasil merebut perunggu.
Boom..., spike yang keras dari Sean Rosenthal (AS),” seru pembawa acara pada laga perempat final AS versus Latvia. ”Powerful spike. Ayo penonton beri semangaaat, USA...” Penonton riuh. ”Latvia...”. Penonton bergemuruh. ”Great Britain..., oh tidak ada”. Penonton bertepuk tangan dan tertawa.
Empat warga Inggris, yang tinggal 40 kilometer arah utara London datang ke berbagai arena untuk menyemangati tim Inggris. Dave, Harry, Elly, dan Emma, yang semuanya berusia senja itu, mengecat wajahnya dengan gambar bendera Inggris. Mereka tidak memiliki tiket dan datang sebagai penggembira.
”Kami sekeluarga. Kami datang ke mana saja untuk tim Inggris Raya,” ujar Harry (64).
Sulit mendapat tiket
Banyak orang ingin membeli tiket dadakan, tetapi mustahil mendapatkannya. Tiket habis sebelum olimpiade bergulir. Beberapa mahasiswa Indonesia di London mencoba membeli tiket secara online. Di situs resmi olimpiade sepekan lalu tertulis, tiket tersedia untuk tanggal tertentu, tetapi ketika dibuka ternyata habis. Selalu terulang dan membuat frustrasi.
Namun, sekitar 10.000 kursi di satu arena pertandingan kosong, pekan lalu. Hal itu memunculkan pertanyaan, ke mana penonton ini? Mengapa kursi kosong, padahal tiket habis. Media pun memberitakan kursi kosong ini selama beberapa hari. CEO Olimpiade 2012 Sebastian Coe menduga ada skandal tiket di balik kursi kosong itu.
Menjelang penutupan olimpiade dan beberapa pertandingan hampir mencapai puncaknya, makin banyak orang mencari tiket. Di arena berkuda di Green- wich, Kamis, orang berderet di dekat stasiun kereta melambaikan kertas bertuliskan, I need ticket atau three tickets please.
Dalam situasi demikian, sama seperti di Indonesia, ada saja calo tiket. Namun, keberadaan calon tiket itu tidak jelas. ”Itu lihat orang yang pakai kaus Brasil, beli di situ,” bisik Keith, warga London di dekat arena voli pantai.
Warga Brasil itu mengeluarkan beberapa tiket, untuk tanggal 6, 7, dan 8 Agustus, sampai final. ”Untuk yang hari ini, sudah habis. Besok ada, 95 pound,” katanya.
Harga di tiket 75 pound untuk laga perempat final dan semifinal putra. ”Bagaimana kalau 80 pound?”
”Wah, turunnya banyak sekali,” ujar si Brasil.
Setelah melihat gelagat si pembeli ingin mencari calo lain. Si Brasil itu pun buru-buru berkata, ”Okelah 80 pound. Tiket ini asli dan resmi, dari organisasi olahraga.”
Batin saya, "Weladalah, dapat gratisan dijual mahal. Aseeem......". (Kompas, 11 Agustus 2012)
DITA KARENZA
Memburu Salju....
Dita Karenza masih berusia 13 tahun. Namun, petualangannya di jagat catur sudah lumayan. Ia telah tampil di Turki, Rusia, Romania, dan bolak-balik ke Vietnam serta Filipina. Tubuhnya mungil, gayanya ceria khas anak-anak, dan masih sering kangen pada kakeknya, guru catur kanak-kanaknya.
Dita menjadi harapan Indonesia pada masa depan. Prestasinya cemerlang sejak usia tujuh tahun. Ia pun dimasukkan ke tim nasional untuk SEA Games 2013, tim 150 persen. Memang belum tentu berangkat ke Myanmar. Akan tetapi, Dita berkesempatan ikut uji coba, salah satunya Kejuaraan Kontinental Asia Piala Manny Pacquiao 2013, di Manila, Filipina, 18-26 Mei.
Dita, yang bergelar Master FIDE Wanita (WFM), sangat percaya diri melawan pecatur-pecatur yang lebih kuat. Ia berada di peringkat ke-40 dari 40 peserta, alias juru kunci dengan rating 1.821. Namun, ia bergeming. ”Aku enggak mikirin rating. Cuek saja. Kan bisa saja ratingnya tinggi, tetapi dapetnya udah lama dan enggak pernah tanding lagi,” kata sulung tiga bersaudara kelahiran Tarakan pada 2000 ini. Benar saja. Dalam lima babak, Dita meraih tiga poin, hasil tiga kemenangan atas Jedara Docena (Filipina, ra t i n g
Dita, yang bergelar Master FIDE Wanita (WFM), sangat percaya diri melawan pecatur-pecatur yang lebih kuat. Ia berada di peringkat ke-40 dari 40 peserta, alias juru kunci dengan rating 1.821. Namun, ia bergeming. ”Aku enggak mikirin rating. Cuek saja. Kan bisa saja ratingnya tinggi, tetapi dapetnya udah lama dan enggak pernah tanding lagi,” kata sulung tiga bersaudara kelahiran Tarakan pada 2000 ini. Benar saja. Dalam lima babak, Dita meraih tiga poin, hasil tiga kemenangan atas Jedara Docena (Filipina, ra t i n g
2 .01 9) Sharmin Shirin Sultana (Banglades, ra t i n g 2.005), dan Nguyen Thi Mai Hung (Vietnam, 2.284). Lawan terakhir ini bergelar WIM dan Raja putihnya mati tak ber-
kutik diskak Dita.
Dita kecil mengikuti jejak bibinya yang juga pecatur nasional, Dewi AA Citra (19). Ayah Citra adalah kakek Dita, yang mengajari bibi dan keponakan ini bermain catur. Kakeknya bukan pecatur jagoan, hanya pecatur lapak, kata Dita. Akan tetapi, sang kakek ini pintar dari membaca buku, dan buku itu pula yang menjadi referensinya untuk mengajari Citra dan Dita.
Dita mulanya enggan diajak main catur. Pikirnya, pemain catur pasti seorang pemalas. Kerjaannya cuma duduk. Makanya ia tidak mau menjadi tambah malas. Namun, mimpi bibinya menularinya. Sambil memainkan boneka Barbie, Citra bercerita tentang salju. Suatu saat, Citra ingin bisa melihat salju. ”Ternyata mimpi Citra kesampaian. Main catur ke Eropa. Aku juga ingin melihat salju seperti tante. Makanya aku jadi mau belajar catur he-he-he,” tutur Dita.
Setahun setelah berlatih catur pada usia tujuh tahun, Dita memenangi Kejuaraan Daerah di Kalimantan Timur. Dita menang lagi di Kejuaraan Nasional dan dihadiahi bertanding ke Kejuaraan Dunia Remaja di Turki. Saat itu musim dingin, dan Dita pun bisa melihat salju. Waaaah.... Mimpinya terkabul.
Setahun setelah berlatih catur pada usia tujuh tahun, Dita memenangi Kejuaraan Daerah di Kalimantan Timur. Dita menang lagi di Kejuaraan Nasional dan dihadiahi bertanding ke Kejuaraan Dunia Remaja di Turki. Saat itu musim dingin, dan Dita pun bisa melihat salju. Waaaah.... Mimpinya terkabul.
Satu demi satu prestasi ia raih. Pada 2008 di kejuaraan kelompok umur ASEAN di Vietnam, Dita menyabet dua emas untuk catur blitz (catur kilat) dan rapid (catur cepat). Ia juga pemenang ketiga Kejuaraan Pelajar Dunia pada tahun yang sama. Setahun berikutnya di Kejuaraan Remaja ASEAN di Filipina, Dita menyabet tiga emas atau semua kategori, yakni klasik, blitz, dan rapid. Ia pun dianugerahi gelar WFM karena kecemerlangannya,meski ratingnya belum cukup .
Jalan masih panjang bagi Dita untuk meraih mimpi besarnya, merengkuh gelar Grand Master Wanita. Untuk itu,sederet norma harus ia penuhi. Yakin? Ia sangat yakin, seyakin dulu saat memburu salju pertamanya. (Kompas, 24 Mei 2013)
Ini sekadar catatan dari liputan balap sepeda Speedy Tour d'Indonesia dari tanggal 23November sampai 4 Desember 2009 lalu. Maaf ya kalau terlambat posting. Biasaaaa penyakit malassss kronisss....Lomba balap sepeda ini digelar atas kerja sama antara Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), khususnya Telkom Speedy.
Ini hanyalah tulisan yang tercecer, karena tulisan dan berita lain sudah dimuat di Kompas, hehehehe.....
TUR BALAP SEPEDA DAN PERJALANAN BUDAYA
Beberapa pebalap sepeda dan official dari tim Korea, Jepang, dan Iran terlihat asyik mengabadikan sendratari Dongkrek menjelang dimulainya etape tujuh Speedy Tour d’Indonesia di Madiun Jawa Timur, Minggu (29/11). Dongkrek persembahan grup Condro Budoyo Madiun ini bercerita tentang penolakan pada setan-setan penggoda gadis remaja. Melalui tongkatnya yang bertuah, seorang bapak tua berhasil mengusir para setan.
Para pebalap ini adalah mereka yang pada etape-etape sebelumnya gagal mencapai finis dan otomatis diskualifikasi, sehingga bisa lebih bersantai menikmati perjalanan. Adapun official sengaja memanfaatkan waktu dengan merekam pentas seni tradisi yang disuguhkan. “Kami merekam tarian-tariannya, meski tidak paham,” kata Daryush Mohammad Zadeh, mekanik tim Tabriz Petrochemical. Sehari sebelumnya saat finis di Madiun, para pebalap disuguhi Reog Ponorogo dengan cerita obyokan (bebas) dari grup Manggolo Krido.
Sepuluh kota yang menjadi tempat start maupun finis kompetisi ini dibikin sibuk dengan acara penyambutan. Semua kota mempertontonkan kekhasan seni tradisi dan kuliner daerah masing-masing. Di Purwokerto, misalnya, rombongan TdI disuguhi mendoan yang digoreng langsung di samping pendopo pemkot sehingga bisa disantap selagi masih panas. Tak terlihat ada pebalap yang ikut mencicipi, mungkin karena mereka dilarang mengudap makanan berlemak. Namun para kru tim, panitia, dan anggota rombongan lain langsung menyerbu penggorengan seperti tentara dikomando perang. Mendoan pun ludes.
Di Bandung, para penari molek dari STSI Bandung membawakan tari Jaipong Kembang Tanjung sebelum para pebalap beraksi untuk etape dua menuju Tasikmalaya. Sementara di Yogyakarta, rombongan dilepas dengan tarian topeng ireng dari Paguyuban Topeng Ireng Siswo Kawedar, Sleman. Tarian yang diadaptasi dari cerita di pedalaman Kalimantan ini menceritakan bersatunya manusia dan alam, termasuk para binatang di hutan. “Selain cerita hewan, cerita topeng ireng juga bisa untuk perayaan hari besar. Ada pula cerita humor. Topeng ireng ini asalnya memang dari Kalimantan, dan kami sengaja menyebarkannya dengan sedikit modifikasi,” tutur Subardi, pemimpin paguyuban.
Di Banyuwangi, sajian tarian tradisi hanya dilakukan seusai finis dari Probolinggo karena tidak ada proses start dari kota paling timur di Jawa Timur ini. Tarian Gandrung Jejer Jaran Dawuk diperagakan empat dara cantik dari sanggar tari Sayu Gringsing Banyuwangi. “Ini tarian khas Banyuwangi, khusus untuk penyambutan tamu,” kata seorang penari. Tari penyambutan tamu juga dilenggokkan empat penari ayu dari sanggar tari Satya Laksana, Negara, Jembrana Bali. Mereka membawakan tari Bakti Marga dengan tabuh jegog dari grup Bajra Iswara, Negara, Jembrana.
Wisata
Selain bisa menikmati makanan khas dan suguhan seni tradisi, rombongan juga mencuri waktu untuk berwisata dan berbelanja. Libur sehari di Yogyakarta dimanfaatkan Road Bike Phils 7 Eleven Racing Team dari Filipina untuk memasak di apartemen. “Saya mau berbelanja ikan dan udang untuk memasak sup sinigang. Kami sudah cukup menikmati masakan Indonesia, saat ini kami ingin kembali dulu ke Filipina,” kata Ric Rodriguez, direktur tim dari Filipina ini sewaktu di Yogyakarta.
Pada TdI 2008, tim-tim dari Iran sempat berwisata ke Kebun Binatang Gembiro Loka Yogyakarta. Kali ini, tim Iran berencana menyambangi Candi Prambanan. Namun, karena pada Jumat (27/11) cuaca kurang bersahabat dan Yogyakarta terus diguyur hujan, rencana pun diurungkan. Beberapa kru dari tim Iran pun menggantinya dengan berlibur ke gunung Bromo dan sempat menunggang kuda di sana.
“Kami menikmati setiap tur di Indonesia karena pemandangannya indah. Kami selalu tidak sabar untuk segera sampai ke Bali dan pergi ke pantai,” kata Zadeh.
Begitulah, kompetisi balap sepeda ini tidak sekadar menjadi sebuah peristiwa olahraga semata namun juga barangkali sebuah perjalanan budaya sejauh lebih dari seribu kilometer. Para pebalap berikut rombongan TdI melewati simbol-simbol etnik tidak hanya berupa tarian dan nyanyian namun juga bahasa dan kuliner. Jika di Yogyakarta mereka akan menjumpai gudeg di mana-mana, di Banyuwangi mereka akan berjumpa dengan rujak soto dan nasi tempong yang sambelnya super pedas sehingga rasanya seperti ditempong (ditampar) itu.
Budaya di sini juga termasuk bagaimana suatu kota atau kabupaten menata kotanya. Kita akan berhadapan dengan budaya bersih dan budaya jorok. Akan terlihat kota mana yang sungguh bersih tertata, dan kota mana yang tidak dapat menyembunyikan onggokan sampah di pinggir jalan.
Para peserta TdI 2009, khususnya tim dari Indonesia, juga akan segera mengerti karakteristik masyarakat kota tertentu, misalnya dengan mendengarkan radio di kota itu. Coba putar, misalnya, saluran radio di Probolinggo pada malam hari. Alhasil akan mengalun lagu-lagu dangdut di sejumlah saluran, sementara beberapa saluran lain memutar lagu pop Indonesia tahun 70-80-an. “Di bukit indah berbunga.. kau mengajak aku ke sana….,” suara mendesah Uchi Bing Slamet menyeruak di satu saluran. Dan kami pun mulai terkantuk-kantuk.
Ini hanyalah tulisan yang tercecer, karena tulisan dan berita lain sudah dimuat di Kompas, hehehehe.....
TUR BALAP SEPEDA DAN PERJALANAN BUDAYA
Beberapa pebalap sepeda dan official dari tim Korea, Jepang, dan Iran terlihat asyik mengabadikan sendratari Dongkrek menjelang dimulainya etape tujuh Speedy Tour d’Indonesia di Madiun Jawa Timur, Minggu (29/11). Dongkrek persembahan grup Condro Budoyo Madiun ini bercerita tentang penolakan pada setan-setan penggoda gadis remaja. Melalui tongkatnya yang bertuah, seorang bapak tua berhasil mengusir para setan.
Para pebalap ini adalah mereka yang pada etape-etape sebelumnya gagal mencapai finis dan otomatis diskualifikasi, sehingga bisa lebih bersantai menikmati perjalanan. Adapun official sengaja memanfaatkan waktu dengan merekam pentas seni tradisi yang disuguhkan. “Kami merekam tarian-tariannya, meski tidak paham,” kata Daryush Mohammad Zadeh, mekanik tim Tabriz Petrochemical. Sehari sebelumnya saat finis di Madiun, para pebalap disuguhi Reog Ponorogo dengan cerita obyokan (bebas) dari grup Manggolo Krido.
Sepuluh kota yang menjadi tempat start maupun finis kompetisi ini dibikin sibuk dengan acara penyambutan. Semua kota mempertontonkan kekhasan seni tradisi dan kuliner daerah masing-masing. Di Purwokerto, misalnya, rombongan TdI disuguhi mendoan yang digoreng langsung di samping pendopo pemkot sehingga bisa disantap selagi masih panas. Tak terlihat ada pebalap yang ikut mencicipi, mungkin karena mereka dilarang mengudap makanan berlemak. Namun para kru tim, panitia, dan anggota rombongan lain langsung menyerbu penggorengan seperti tentara dikomando perang. Mendoan pun ludes.
Di Bandung, para penari molek dari STSI Bandung membawakan tari Jaipong Kembang Tanjung sebelum para pebalap beraksi untuk etape dua menuju Tasikmalaya. Sementara di Yogyakarta, rombongan dilepas dengan tarian topeng ireng dari Paguyuban Topeng Ireng Siswo Kawedar, Sleman. Tarian yang diadaptasi dari cerita di pedalaman Kalimantan ini menceritakan bersatunya manusia dan alam, termasuk para binatang di hutan. “Selain cerita hewan, cerita topeng ireng juga bisa untuk perayaan hari besar. Ada pula cerita humor. Topeng ireng ini asalnya memang dari Kalimantan, dan kami sengaja menyebarkannya dengan sedikit modifikasi,” tutur Subardi, pemimpin paguyuban.
Di Banyuwangi, sajian tarian tradisi hanya dilakukan seusai finis dari Probolinggo karena tidak ada proses start dari kota paling timur di Jawa Timur ini. Tarian Gandrung Jejer Jaran Dawuk diperagakan empat dara cantik dari sanggar tari Sayu Gringsing Banyuwangi. “Ini tarian khas Banyuwangi, khusus untuk penyambutan tamu,” kata seorang penari. Tari penyambutan tamu juga dilenggokkan empat penari ayu dari sanggar tari Satya Laksana, Negara, Jembrana Bali. Mereka membawakan tari Bakti Marga dengan tabuh jegog dari grup Bajra Iswara, Negara, Jembrana.
Wisata
Selain bisa menikmati makanan khas dan suguhan seni tradisi, rombongan juga mencuri waktu untuk berwisata dan berbelanja. Libur sehari di Yogyakarta dimanfaatkan Road Bike Phils 7 Eleven Racing Team dari Filipina untuk memasak di apartemen. “Saya mau berbelanja ikan dan udang untuk memasak sup sinigang. Kami sudah cukup menikmati masakan Indonesia, saat ini kami ingin kembali dulu ke Filipina,” kata Ric Rodriguez, direktur tim dari Filipina ini sewaktu di Yogyakarta.
Pada TdI 2008, tim-tim dari Iran sempat berwisata ke Kebun Binatang Gembiro Loka Yogyakarta. Kali ini, tim Iran berencana menyambangi Candi Prambanan. Namun, karena pada Jumat (27/11) cuaca kurang bersahabat dan Yogyakarta terus diguyur hujan, rencana pun diurungkan. Beberapa kru dari tim Iran pun menggantinya dengan berlibur ke gunung Bromo dan sempat menunggang kuda di sana.
“Kami menikmati setiap tur di Indonesia karena pemandangannya indah. Kami selalu tidak sabar untuk segera sampai ke Bali dan pergi ke pantai,” kata Zadeh.
Begitulah, kompetisi balap sepeda ini tidak sekadar menjadi sebuah peristiwa olahraga semata namun juga barangkali sebuah perjalanan budaya sejauh lebih dari seribu kilometer. Para pebalap berikut rombongan TdI melewati simbol-simbol etnik tidak hanya berupa tarian dan nyanyian namun juga bahasa dan kuliner. Jika di Yogyakarta mereka akan menjumpai gudeg di mana-mana, di Banyuwangi mereka akan berjumpa dengan rujak soto dan nasi tempong yang sambelnya super pedas sehingga rasanya seperti ditempong (ditampar) itu.
Budaya di sini juga termasuk bagaimana suatu kota atau kabupaten menata kotanya. Kita akan berhadapan dengan budaya bersih dan budaya jorok. Akan terlihat kota mana yang sungguh bersih tertata, dan kota mana yang tidak dapat menyembunyikan onggokan sampah di pinggir jalan.
Para peserta TdI 2009, khususnya tim dari Indonesia, juga akan segera mengerti karakteristik masyarakat kota tertentu, misalnya dengan mendengarkan radio di kota itu. Coba putar, misalnya, saluran radio di Probolinggo pada malam hari. Alhasil akan mengalun lagu-lagu dangdut di sejumlah saluran, sementara beberapa saluran lain memutar lagu pop Indonesia tahun 70-80-an. “Di bukit indah berbunga.. kau mengajak aku ke sana….,” suara mendesah Uchi Bing Slamet menyeruak di satu saluran. Dan kami pun mulai terkantuk-kantuk.


